alexametrics

Iran Mengaku Hampir Minggat dari Perjanjian Kontrol Senjata Nuklir

loading...
Iran Mengaku Hampir Minggat dari Perjanjian Kontrol Senjata Nuklir
Iran mengaku bahwa mereka hampir saja mundur dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), sesaat setelah AS menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015. Foto/Istimewa
A+ A-
TEHERAN - Iran mengaku bahwa mereka hampir saja mundur dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), sesaat setelah Amerika Serikat (AS) menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015. Namun, keputusan untuk mundur dari NPT dikeluarkan dari opsi untuk merespon penarikan mundur AS dari kesepakatan nuklir.

Juru bicara Organisasi Energi Atom Iran (AEOI), Behrouz Kamalvandi menuturkan menyusul penarikan AS dari perjanjian nuklir Iran dan penerapan kembali sanksi, Teheran mempertimbangkan masalah penarikan dari NPT. Namun, setelah diskusi panjang, ungkap Kamalvandi, Iran merubah pikiranya dan tetap bertahan di perjanjian itu.

"Daftar berbagai langkah diajukan kepada Presiden Iran dan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Daftar awal berisi banyak opsi, termasuk bahkan penarikan dari NPT, tetapi kemudian kami mempertimbangkan kembali ini," kata Kamalvandi, seperti dilansir Sputnik pada Minggu (8/6).



NPT adalah adalah perjanjian yang ditandatangani pada 1 Juli 1968 yang membatasi kepemilikan senjata nuklir. Sebagian besar negara berdaulat) mengikuti perjanjian ini, walaupun ada beberapa negara yang diduga memiliki senjata nuklir, salah satunya Israel, belum meratifikasi perjanjian ini.

Perjanjian ini diusulkan oleh Irlandia dan pertama kali ditandatangani oleh Finlandia. Pada tanggal 11 Mei 1995, di New York, lebih dari 170 negara sepakat untuk melanjutkan perjanjian ini tanpa batas waktu dan tanpa syarat.

Perjanjian ini memiliki tiga pokok utama, yaitu nonproliferasi, perlucutan, dan hak untuk menggunakan teknologi nuklir untuk kepentingan damai.
(esn)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak