alexametrics

Media China Desak Beijing Tindak Tegas Demonstran Hong Kong

loading...
Media China Desak Beijing Tindak Tegas Demonstran Hong Kong
Reporter situs media China Global Times, Fu Guohao, diikat oleh pengunjuk rasa selama demonstrasi massa di bandara internasional Hong Kong pada Selasa (13/8/2019). Foto/Reuters
A+ A-
BEIJING - Media pemerintah China meminta Bejing untuk menangani aksi protes di Hong Kong dengan lebih tegas. Permintaan itu muncul setelah seorang wartawan dari salah satu surat kabar terbesar pemerintah China itu terperangkap dalam bentrokan demonstran dengan polisi.

Demonstran dan polisi anti huru hara bentrok di bandara Hong Kong pada Selasa malam setelah sebelumnya pihak otoritas membatalkan seluruh penerbangan untuk hari kedua. Dalam sebuah momen, para pengunjuk rasa menahan seorang pria yang media China katakan adalah seorang reporter dari surat kabar Global Times China.

Editor Global Times, Hu Xijin mengatakan salah satu reporter surat kabar itu diselamatkan oleh polisi setelah diikat oleh demonstran. Tabloid tersebut diterbitkan oleh People's Daily.



"Reporter GT Fu Guohao telah diselamatkan oleh polisi dan dikirim ke rumah sakit. Kami masih mencari tahu tentang kondisi cederanya," katanya.

Penyiar CCTV pemerintah China menyebut Fu "pria sejati" di postingan Weibo lainnya yang memiliki lebih dari 140 ribu "like".

Dalam sebuah komentar halaman depan pada edisi luar negeri dari surat kabar resmi Partai Komunis, People's Daily mengatakan, Hong Kong telah mencapai titik kritis.

"Menggunakan pedang hukum untuk menghentikan kekerasan dan memulihkan ketertiban adalah tugas yang paling penting dan mendesak bagi Hong Kong!" katanya People's Daily seperti dikutip dari Reuters, Rabu (14/8/2019).

Komentar lain datang dari seorang peneliti Universitas Shenzhen, yang diterbitkan oleh China Daily, mengatakan pemerintah pusat harus menangani masalah Hong Kong dengan lebih tegas.

Para demonstran mengatakan mereka memerang erosi pengaturan "satu negara, dua sistem" yang mengabadikan beberapa otonomi untuk Hong Kong setelah China mengambilnya kembali dari Inggris pada tahun 1997.

“Gagasan politik yang ekstrem telah sering ditemukan di Hong Kong, dan beberapa bahkan mengangkat slogan 'Kemerdekaan Hong Kong' baru-baru ini. Yang berarti prinsip 'satu negara, dua sistem' menghadapi tantangan baru,” kata penulis China Li Peiwen.

Media pemerintah China juga memposting pesan dukungan untuk polisi Hong Kong, menggambarkan apa yang terjadi di kota itu "memalukan". Postingan ini menjadi topik yang paling banyak dibahas di platform media sosial China.

"Kami juga mendukung polisi Hong Kong!" bunyi sebuah postingan di akun Weibo, platform sosial media mirip Twitter, People's Daily yang telah diposkan ulang lebih dari 500 ribu kali.

Netizen telah mengamati dengan seksama apa yang akan dilakukan Beijing selanjutnya setelah China pekan ini mengutuk beberapa pengunjuk rasa karena menggunakan alat berbahaya untuk menyerang polisi dan mengatakan bentrokan itu menunjukkan "bibit terorisme." (Baca juga: China Mulai Kaitkan Demonstrasi di Hong Kong dengan Terorisme)

The Global Times melaporkan pada hari Senin bahwa Polisi Bersenjata Rakyat China berkumpul di kota tenggara Shenzhen, memicu spekulasi kemungkinan intervensi di Hong Kong.

Beberapa reaksi pada platform media sosial China menyerukan Beijing untuk campur tangan sementara banyak lainnya mendesak tenang. (Baca juga: China Kerahkan Tank dan Kendaraan Lapis ke Dekat Hong Kong)
(ian)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak