alexametrics

Epstein Tewas di Penjara, FBI Serbu 'Pulau Paedofil'-nya

loading...
Epstein Tewas di Penjara, FBI Serbu Pulau Paedofil-nya
Geoffrey Berman, Jaksa AS untuk Distrik Selatan New York, menunjuk foto Jeffrey Epstein ketika mengumumkan dakwaan kasus perdagangan seks gadis di bawah umur. Foto/REUTERS/Shannon Stapleton
A+ A-
NEW YORK - Jeffrey Epstein, miliarder Amerika Serikat (AS) terpidana kasus perdagangan seks gadis di bawah umur telah ditemukan tewas di sel penjaranya Sabtu pekan lalu. Pada hari Senin, para agen FBI terlihat menyerbu pulau pribadi Epstein yang dijuluki sebagai "pulau paedofil".

Otoritas penjara AS menyimpulkan miliarder yang berkawan dengan tokoh-tokoh politik berpengaruh Amerika itu tewas akibat bunuh diri. Sejumlah media Amerika melaporkan, sebelum tewas Epstein sudah memberi tahu penjaga penjara bahwa dia yakin seseorang sedang berusaha membunuhnya.

Tayangan DailyMailTV memperlihatkan para agen FBI turun dari speedboat ke pulau "Little Saint James" milik Epstein di Virgin Island. Para agen tersebut terlihat berkeliling dengan kereta golf.



"Kami sedang menikmati makan siang ketika kami melihat lebih dari selusin orang turun dari speedboat dan mendarat di pulau itu," kata saksi mata yang merekam para agen FBI. Saksi mata tersebut mengaku sedang berada di sebuah kapal sewaan dengan para tamu. Dia meminta ditulis anonim.

"Ketika kami melihat lebih tajam, kami dapat melihat logo FBI di bagian belakang baju mereka. Tidak butuh waktu lama bagi kami untuk menyadari bahwa mereka melakukan penggerebekan di rumah Epstein," lanjut saksi mata tersebut.

Pulau seluas 71,5 hektare itu menjadi tempat tinggal utama Epstein setelah ia membelinya pada tahun 1998 dengan harga USD7,95 juta. Dia kemudian membeli pulau "Great St James" pada Januari 2016 seharga USD18 juta.

Pulau "Great St James" sedang menjalani renovasi serius dengan berbagai proyek konstruksi termasuk amfiteater, dermaga tongkang, dua rumah tambahan, susunan tenaga surya dan kantor bawah air serta kolam renang.

Pulau itu merupakan rumah bagi sebuah "kuil" misterius dan sejak itu dikenal sebagai "pulau pedofil" dan "pulau pesta" setelah terungkap bahwa pulau tersebut digunakan Epstein untuk perdagangan seks gadis-gadis di bawah umur. Surat dakwaan pengadilan telah mengonfirmasi kejahatan Epstein di pulau tersebut.

"Selama bertahun-tahun, Jeffrey Epstein, terdakwa, mengeksploitasi secara seksual dan melecehkan puluhan gadis kecil di rumahnya di Manhattan, New York, dan Palm Beach, Florida, di antara lokasi lainnya," bunyi surat dakwaan di pengadilan.

Pulau pribadi Epstein itu diduga menjadi pusat dari cincin perdagangan manusia, di mana ia dilaporkan menganiaya gadis-gadis seusia 14 tahun. Di pulau pribadinya, Epstein dilaporkan melakukan perbudakan seksual terhadap para gadis di bawah umur.

Menurut laporan The Cut, tokoh-tokoh terkenal ikut memanfaatkan perbudakan seksual yang dilakukan sang miliarder.

Semasa hidup, Epstein memiliki hubungan dekat dengan kalangan selebritas, politisi, dan bahkan keluarga Kerajaan Inggris. Mantan presiden AS Bill Clinton dan Presiden Donald Trump hingga Pangeran Andrew dari Inggris serta mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair dikenal memiliki hubungan dekat dengan miliarder tersebut.

Namun, tokoh-tokoh itu membantah bahwa mereka tahu apa-apa tentang perilaku kriminal Epstein.

Penggerebakan pulau pribadi Epstein oleh para agen FBI terjadi bersamaan dengan pengumuman Jaksa Agung Bill Barr pada hari Senin bahwa siapa pun yang terlibat dengan kejahatan Epstein seharusnya tidak tenang.

"Para korban pantas mendapatkan keadilan dan mereka akan mendapatkannya," kata Bar, seperti dikutip Sputniknews, Selasa (13/8/2019).

Barr telah mengeluhkan tentang penanganan Epstein oleh Lembaga Pemasyarakatan Manhattan (MCC).

"Saya terkejut, dan memang seluruh departemen, dan terus terang marah mengetahui kegagalan MCC untuk mengamankan tahanan ini," katanya.
(mas)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak