alexametrics

Bomber Bunuh Diri Tewaskan Wali Kota Mogadishu Ternyata Wanita Buta

loading...
Bomber Bunuh Diri Tewaskan Wali Kota Mogadishu Ternyata Wanita Buta
Wali Kota Mogadishu, Abdirahman Omar Osman, jadi korban tewas serangan bom bunuh diri di kantornya pada 24 Juli 2019. Foto/REUTERS/Feisal Omar
A+ A-
MOGADISHU - Pelaku bom bunuh diri yang menewaskan wali kota Mogadishu, Somalia, dan enam orang lainnya bulan lalu adalah seorang wanita buta, yang bekerja di pemerintah kota setempat. Wanita itu diduga dimanfaatkan kelompok al-Shabaab.

Kementerian Keamanan Somalia pada hari Jumat (9/8/2019) mengatakan pegawai buta itu beraksi dengan bantuan seorang rekan kerjanya.

Kelompok al-Shabaab yang berafiliasi dengan al-Qaeda dan berambisi menggulingkan pemerintah Somalia yang didukung PBB telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom bunuh diri pada 24 Juli lalu di ibu kota Somalia, Mogadishu.



Wali Kota Mogadishu, Abdirahman Omar Osman, yang sebelumnya menjabat sebagai anggota Dewan Partai Buruh di London, meninggal karena luka-lukanya seminggu setelah serangan itu. Dia meninggal ketika dirawat di sebuah rumah sakit di Qatar.

"Temuan awal menunjukkan seorang wanita yang bekerja di pemerintah daerah meledakkan dirinya dengan bantuan wanita lain, yang juga bekerja di pemerintah setempat," kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan, dikutip Reuters.

Kasus ini diduga penggunaan pertama al-Shabaab terhadap orang berkebutuhan khusus sebagai pengebom bunuh diri. Kementerian tersebut mengatakan pengebom menggunakan kebutaannya untuk melewati pemeriksaan keamanan dan mencapai kantor wali kota.

Keberadaan rekan kerja yang membantu aksi wanita buta itu belum diketahui. Masuh menurut kementerian tersebut, sebelum pengeboman, kedua wanita itu pergi dari tempat kerjanya dan mengunjungi wilayah Somalia yang dikuasai oleh kelompok al-Shabaab.

"Pengebom wanita itu cacat (buta). Dia menyalahgunakan kesempatan dan bertindak bermusuhan terhadap atasan dan orang-orang yang bekerja dengannya," imbuh pernyataan kementerian tersebut.

Osman melarikan diri sebagai pengungsi ke Inggris setelah perang saudara pecah di Somalia pada tahun 1991. Selama di Inggris, dia memperoleh gelar master, menjadi warga negara yang dinaturalisasi dan bekerja di departemen perumahan di wilayah Ealing di London.

Dia kemudian kembali ke Somalia untuk membantu membangun kembali tanah kelahirannya yang hancur karena perang di Tanduk Afrika.
(mas)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak