alexametrics

Tingkatkan Pengayaan Uranium, Iran Bangun Fasilitas Nuklir di Bawah Gunung

loading...
Tingkatkan Pengayaan Uranium, Iran Bangun Fasilitas Nuklir di Bawah Gunung
Foto/Ilustrasi/Sindonews/Ian
A+ A-
LONDON - Para ahli mengklaim Iran sedang membangun fasilitas nuklir yang luas di bawah gunung. Itu dilakukan untuk melindunginya dari pemboman dan pengintai.

Fasilitas pengayaan nuklir Fordow, yang terletak sekitar 80 mil sebelah selatan Teheran, tidak pernah dirancang ulang seperti yang dijanjikan dalam Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) atau perjanjian nuklir 2015.

"Ilmuwan nuklir Iran dapat dengan cepat menghasilkan tingkat pengayaan nuklir tingkat senjata dalam koridor bawah tanah yang dalam dari fasilitas itu," kata sebuah lembaga think tank terkemuka tengah pekan ini seperti disitir dari Daily Mail, Minggu (14/7/2019).



Pabrik ini ditempatkan di pegunungan, awalnya di bawah komando Garda Revolusi Islam, dan sangat dibentengi oleh cincin pagar baja dengan menara penjaga setiap 80 kaki.

"Sistem rudal S-300 buatan Rusia dipasang tiga tahun lalu dan telah menjadi pusat kegiatan ketika citra satelit mengungkapkan konstruksi yang semakin intensif," menurut Institute for Science and International Security.

Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) memiliki pesawat pembom siluman B-2 yang dipersenjatai dengan 'bunker buster' seberat 33.000 pounds. Namun para ahli khawatir pabrik itu tidak bisa dihancurkan.

Terowongan digunakan untuk mengakses sarang yang dikemas dengan lebih dari 1.000 sentrifugal yang digunakan dalam produksi nuklir.

"Semua yang diperlukan untuk memperkaya uranium hingga tingkat senjata dapat dengan cepat dibangun kembali di bagian bawah tanah fasilitas itu," kata Institute for Science and International Security, yang didirikan oleh mantan inspektur nuklir PBB David Albright.

"Fordow berpotensi menjadi bagian dari ancaman Iran saat ini untuk secara progresif menuju ke tingkat pengayaan yang lebih tinggi dan meningkatkan stok uraniumnya yang diperkaya, dan jika dilakukan di sana, kompleks terowongan bawah tanah Fordow diperkuat untuk menahan pemboman udara," imbuhnya.

Fasilitas itu dibangun pada tahun 2002 di bawah 'Rencana Amad', program senjata nuklir Iran. Tetapi setelah ditemukan oleh intelijen Barat, Teheran mengubahnya menjadi pembangkit listrik pada tahun 2009.

Dan pada tahun 2016, JCPOA memutuskan bahwa fasilitas itu akan diubah menjadi pusat nuklir, fisika dan teknologi, tetapi sekarang merupakan aset utama dalam apa yang oleh pemerintahan Trump sebut sebagai pemerasan nuklir.

Presiden AS telah mengecam Iran dengan sanksi atas dugaan pelanggaran terhadap JCPOA. Trump menyebut JCPOA era Obama sebagai kesepakatan terburuk dalam sejarah

"Ada sedikit alasan untuk percaya bahwa Iran pernah bermaksud melakukan konversi yang berarti dari kompleks terowongan Fordow," kata Institute for Science and International Security.

Iran pekan lalu mengumumkan bahwa mereka telah melampaui jumlah uranium yang diperkaya rendah yang diizinkan untuk ditimbun di bawah batasan yang ditetapkan dalam kesepakatan nuklir 2015.

Sejak itu, Teheran juga mengumumkan telah mulai memperkaya uranium melewati kemurnian 3,67% yang diizinkan, hingga 4,5%. Inspektur IAEA pun telah memverifikasi kedua perkembangan tersebut.

Dengan melakukan hal itu, Teheran berharap dapat meningkatkan tekanan pada anggota JCPOA yang tersisa, untuk memberikan bantuan ekonomi atas sanksi Amerika. Iran telah menetapkan batas waktu awal September hingga mendorong batas pengayaan uranium lebih jauh.

Sejauh ini, pihak-pihak yang tersisa dalam kesepakatan nuklir - Rusia, China, Jerman, Prancis, Inggris dan Uni Eropa - tidak dapat memenuhi permintaan Teheran akan bantuan ekonomi yang cukup untuk mengimbangi sanksi Amerika.

Mereka mengatakan mereka tetap berkomitmen untuk mempertahankannya, namun, bersikeras itu adalah cara terbaik untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir - meskipun Iran mengatakan tidak tertarik untuk memproduksi satu pun senjata nuklir.
(ian)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak