alexametrics

Gereja Ortodoks Rusia Ingin Akhiri Pemberkatan Rudal Nuklir

loading...
Gereja Ortodoks Rusia Ingin Akhiri Pemberkatan Rudal Nuklir
Presiden Vladimir Putin dan Kepala Gereja Ortodoks Rusia, Patriarkh Kirill. Foto/REUTERS/Sputnik
A+ A-
MOSKOW - Gereja Ortodoks Rusia sedang memperdebatkan rencana untuk mengakhiri praktik memberkati senjata pemusnah massal (WMD), termasuk rudal nuklir. Para imam gereja selama ini mempertahankan tradisi lama, yakni memberkati para prajurit dan senjata mengerikan Moskow.

Namun, tradisi lama itu kemungkinan akan berubah setelah beberapa imam merasa bahwa rudal balistik antarbenua (ICBM) berhulu ledak nuklir termasuk dalam kategori yang berbeda dari senjata api individu tentara.

Militer dan Gereja Ortodoks Rusia telah lama menikmati hubungan dekat. Otoritas Gereja Ortodoks selama ini menganggap konflik militer negara tersebut sebagai bentuk Perang salib.



Inisiatif baru untuk berhenti memberkati senjata nuklir ditentang di antara para imam gereja pro-militer Kremlin.

Pendeta Ortodoks Rusia Vsevolod Chaplin telah menyebut WMD sebagai "malaikat penjaga". "Hanya senjata nuklir yang melindungi Rusia dari perbudakan oleh Barat," kata Chaplin yang dikutip Religion News Service (RNS).

Seorang pendeta bernama Dmitry Tsorionov memilih berpisah dari aspek yang lebih militan dari Gereja Ortodoks setelah melihat orang-orang rela mendaftar untuk perang untuk Rusia di bawah panji-panji Kristus.

Dia kini ingin melihat sikap baru di antara para pendeta. "Tidak jarang melihat bagaimana pejabat gereja secara terbuka menggoda ide-ide beracun ini. Baru pada saat itulah saya akhirnya menyadari apa yang menjadi berkat dari perangkat keras militer," ujar Tsorinov, seperti dikutip Express.co.uk, Jumat (12/7/2019).

Uskup Savva Tutunov dari Patriarkat Moskow mengatakan bahwa akan lebih tepat untuk memberkati hanya prajurit yang membela negara dan senjata pribadi mereka sendiri daripada bom.

"Seseorang dapat berbicara tentang berkat dari seorang prajurit yang bertugas militer untuk membela tanah air," kata Tutunov.

“Pada akhir ritual yang sesuai, senjata pribadi juga diberkati, tepatnya karena terhubung dengan orang yang menerima berkat tersebut," paparnya.

"Dengan alasan yang sama, senjata pemusnah massal tidak harus disucikan," imbuh dia.

Usulan untuk mengakhiri pemberkatan terhadap senjata pemusnah massal belum disetujui oleh Patriarkh Kirill dari Moskow, kepala Gereja Ortodoks Rusia.

Sistem senjata, termasuk rudal balistik antarbenua kelas Topol, sering diberkati oleh anggota imam Ortodoks Rusia selama parade militer dan acara lainnya.

Pemberkatan ini dipandang sebagai cara melindungi negara secara spiritual. Pada tahun 2007, senjata nuklir Rusia ditahbiskan dalam pelayanan di Katedral Kristus Sang Juru Selamat di Moskow.

Larangan itu akan merupakan perubahan sinyal dalam kebijakan resmi gereja mengenai arsenal nuklir Rusia. Meskipun Gereja Ortodoks global mengutuk senjata pemusnah massal, Patriarkh Kirill memuji kemampuan nuklir Rusia sebabagai pencegah Perang Dunia III dan memastikan kedaulatan negara Rusia.

Gereja Ortodoks Rusia juga menguduskan arsenal nuklir negara itu selama kebaktian di Katedral Christ the Savior di Moskow pada 2007.

Gudang senjata nuklir Rusia juga memiliki santo pelindungnya sendiri, Saint Seraphim, yang jasadnya ditemukan pada tahun 1991 di sebuah biara yang tidak digunakan di Sarov, sebuah kota kecil di Rusia tengah yang merupakan rumah bagi beberapa fasilitas nuklir utama di era Soviet.
(mas)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak