alexametrics

Perusahaan Siber AS-Israel: China Peretas Telekomunikasi Global Besar-besaran

loading...
Perusahaan Siber AS-Israel: China Peretas Telekomunikasi Global Besar-besaran
Ilustrasi serangan siber. Foto/REUTERS
A+ A-
TEL AVIV - Sebuah perusahaan keamanan siber Amerika Serikat (AS)-Israel mengatakan bahwa pihaknya telah membongkar aksi peretasan besar-besaran terhadap perusahaan telekomunikasi global. Menurut perusahaan itu peretasan dilakukan oleh para aktor yang didukung negara di China.

Cybereason, yang berbasis di Boston dan memiliki kantor di Tel Aviv, London, dan Tokyo, mengatakan peretasan itu termasuk penargetan khusus orang-orang yang bekerja di pemerintahan, penegak hukum dan politik.

Perusahaan mengatakan dalam sebuah pernyataan hari Selasa bahwa mereka telah menemukan operasi yang didukung negara terhadap beberapa penyedia seluler yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.



"Alat dan TTP (taktik, teknik dan prosedur) yang terlibat dalam operasi ini menunjukkan bahwa penyerang negara-bangsa diduga berasal dari China," kata perusahaan itu, yang menjuluki operasi penyelidikannya dengan anama "Operation Soft Cell".

"Peretas terlibat dalam spionase dan jaringan pencurian yang menargetkan individu tertentu di berbagai benua yang kemungkinan bekerja di pemerintahan, penegakan hukum dan politik," kata Cybereason, seperti dikutip Times of Israel, Rabu (26/6/2019).

"Penyelidikan sembilan bulan aktif yang sedang berlangsung menunjukkan bagaimana musuh negara-bangsa, yang kemungkinan disponsori oleh pemerintah China, telah mengambil alih jaringan IT dari banyak penyedia seluler yang mengakibatkan pencurian data ratusan gigabyte," lanjut pernyataan perusahaan tersebut.

"Peretas sepenuhnya mengambil alih jaringan IT dan dapat menyesuaikan infrastruktur IT untuk kenyamanan mereka, untuk menarik keluar secara lengkap database direktori aktif, mengompromikan setiap nama pengguna dan kata sandi tunggal dalam organisasi ini," lanjut Cybereason.

"Selain itu, informasi pribadi lainnya seperti data tagihan, catatan detail panggilan, kredensial, server email dicuri," imbuh perusahaan itu.

Cybereason tidak merilis daftar perusahaan yang mereka yakini sebagai sasaran peretasan.

"Operasi terhadap perusahaan telekomunikasi dalam skala besar," imbuh Lior Div, CEO dan pendiri Cybereason. "Ini bukan kampanye besar-besaran untuk mencuri uang atau nomor jaminan sosial."

"Para peretas ini memiliki motif yang sangat spesifik dan menjalankan operasi-operasi yang sangat bertarget tinggi untuk memiliki jaringan dan melacak daftar individu yang sangat ditargetkan di berbagai benua," lanjut Div, seorang veteran dari unit siber 8200, salah satu satuan elite militer Israel.

"Ini bukan satu pelanggaran tetapi serangkaian pelanggaran canggih dan bertarget," kata Amit Serper, direktur senior dan kepala penelitian keamanan di Cybereason. “Para peretas telah mencuri ratusan gigabyte informasi dan memiliki akses ke informasi geolokasi individu, mengetahui pergerakan mereka secara tepat di siang dan malam hari. Jika individu-individu bepergian ke luar negeri, para peretas tahu itu. Jika orang tersebut menghadiri konser, para peretas mengetahuinya dan mereka dapat menggunakan informasi ini untuk mengidentifikasi waktu yang nyaman dalam operasi dan kampanye yang mereka lakukan."

Negara-negara Barat, dan khususnya AS dan Inggris, selama ini menuduh China melakukan operasi peretasan skala besar yang bertujuan mencuri data dalam jumlah besar termasuk rahasia dagang dan informasi ilmiah serta detail pribadi warga negara.

Pada bulan Desember, pihak berwenang AS mendakwa dua peretas China yang diduga bertindak atas nama badan intelijen utama Beijing untuk mencuri rahasia dagang dan informasi lain dari agen-agen pemerintah dan siapa saja dari perusahaan besar di Amerika Serikat dan hampir selusin negara lain. Negara-negara sasaran yang disebutkan dalam dakwaan AS termasuk Brazil, Kanada, Finlandia, Prancis, Jerman, India, Jepang, Swedia, Swiss, dan Uni Emirat Arab.
(mas)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak