alexametrics

Markasnya Dikepung dan Dilempari Telur, Polisi Hong Kong Naik Pitam

loading...
Markasnya Dikepung dan Dilempari Telur, Polisi Hong Kong Naik Pitam
Markas polisi Hong Kong dilempari telur dan di corat coret oleh demonstran yang mengepungnya sejak Jumat hingga Sabtu dini hari. Foto/Istimewa
A+ A-
HONG KONG - Polisi Hong Kong mengutuk aksi demonstran yang mengepung markas besarnya. Para demonstran disebut ilegal, tidak rasional dan tidak masuk akal dalam kemarahan terhadap pihak kepolisian atas tindakan pembubaran demonstrasi pada 12 Juni lalu.

Sebagian besar pemuda berpakaian hitam, yang berjumlah ribuan, berkumpul di luar gedung markas besar kepolisian Hong Kong pada Jumat pagi dan melakukan aksi protes hingga Sabtu dini hari. Beberapa dari mereka kemudian melemparkan telur dan menulis slogan-slogan di dinding gedung kantor polisi sebelum akhirnya bubar.

Demonstran menuntut pencabutan RUU ekstradisi kriminal ke daratan China. Pusat keuangan Asia itu telah terguncang oleh kekacauan politik dan sosial selama dua minggu terakhir, ketika ratusan ribu orang turun ke jalan untuk menentang RUU ekstradisi.



Dalam sebuah pernyataan yang keras, pihak kepolisian Hong Kong mengatakan mereka menunjukkan toleransi yang besar kepada para demonstran di luar markas mereka.

"Tetapi cara mereka mengekspresikan pandangan telah menjadi ilegal, tidak rasional dan tidak masuk akal," bunyi pernyataan itu, menuduh demonstran mengganggu pekerjaan polisi.

"Polisi akan secara ketat menindaklanjuti kegiatan ilegal ini," sambung pernyataan itu seperti disitir dari CNBC, Sabtu (22/6/2019).

Para pemrotes melampiaskan kemarahan mereka kepada polisi setelah regu polisi anti huru hara menyemprotkan gas air mata dan menembakkan peluru karet ke kerumunan massa pada aksi 12 Juni lalu. Tindakan tersebut menurut komisioner polisi dibenarkan tetapi menurut para demonstran hal itu berlebihan. Demonstran di gedung polisi menuntut pembebasan mereka yang ditangkap dalam aksi protes 12 Juni lalu.

Pihak kepolisian Hong Kong tidak dapat memperkirakan jumlah massa yang melakukan aksi protes. Sekitar belasan petugas polisi berdiri di luar gedung pada Sabtu pagi setelah pengunjuk rasa pergi. Ungkapan "tidak pernah menyerah" - ditulis dalam bahasa China dan ditempel di dinding - telah dihapus, sementara grafiti tampak tertutup. Sementara staf kebersihan membersihkan kulit telur.

Pernyataan polisi mengatakan bahwa 13 anggota staf dikirim ke rumah sakit untuk perawatan. Mereka juga harus menyatakan "penundaan yang cukup besar" karean apa yang disebutnya sebagai "blokade" bangunan. Diminta untuk menjelaskan lebih lanjut, seorang juru bicara polisi mengatakan kepada CNBC bahwa mereka yang dirawat “merasa tidak enak badan.”

Joshua Wong, yang memainkan peran utama dalam protes 2014 di Hong Kong untuk demokrasi yang lebih luas dan bergabung dengan para demonstran di markas polisi, menyebut demonstrasi itu sebagai "pertemuan damai" ketika dihubungi oleh CNBC.

Wong menambahkan bahwa pernyataan polisi tidak dapat menyelesaikan masalah kemarahan yang dirasakan orang-orang terhadap pemerintah China dan Hong Kong.

Pemerintah Hong Kong mengeluarkan pernyataan Jumat malam yang menyesali "ketidaknyamanan" publik yang disebabkan oleh demonstrasi pada siang hari, termasuk di markas polisi, dan meminta para pemrotes untuk bertindak secara damai dan rasional.

Pemimpin Hong Kong, Carrie Lam, minggu lalu telah menunda pembahasan RUU ekstradisi tanpa batas waktu di tengah meningkatnya aksi protes. Namun ia menolak seruan untuk mengundurkan diri dan secara resmi menarik rancangan undang-undang itu, meskipun ia mengakui bahwa pengesahannya adalah hal yang tidak mungkin.

Di bawah kerangka "satu negara, dua sistem" yang berlaku sejak 1997, Hong Kong memiliki sistem hukum yang terpisah, dan mengelola ekonomi serta mata uangnya sendiri - warisan saat menjadi koloni Inggris - sementara China menangani urusan luar negeri dan pertahanan.
(ian)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak