alexametrics

Soal Dialog dengan Korut, AS: Pintu Kami Terbuka Lebar

loading...
Soal Dialog dengan Korut, AS: Pintu Kami Terbuka Lebar
Presidem Donald Trump dan Pemimpin Korut Kim Jong-un. Foto/Istimewa
A+ A-
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) mengatakan pintunya tetap terbuka lebar untuk melakukan pembicaraan dengan Korea Utara (Korut). Hal itu diungkapkan oleh Perwakilan Khusus AS untuk Korut Stephen Biegun.

Berbicara di forum Washington, Biegun mengatakan AS tidak memiliki prasyarat untuk perundingan baru dengan Korut. Perundingan dengan Pyongyang macet sejak pertemuan puncak antara Trump dan pemimpin Korut, Kim Jong-un, di Vietnam pada bulan Februari lalu berujung kegagalan.

Biegun mengatakan pintu Washington tetap "terbuka lebar" untuk negosiasi dan AS bersedia untuk membahas semua komitmen yang dibuat oleh kedua pemimpin pada pertemuan puncak pertama di Singapura tahun lalu, yang termasuk jaminan keamanan untuk Korut. Namun, ia menekankan bahwa kemajuan pembicaraan akan membutuhkan langkah-langkah denuklirisasi Korut yang bermakna dan dapat diverifikasi.



Biegun, dalam komentar publik yang jarang, mengatakan baik Washington maupun Pyongyang memahami perlunya fleksibel dalam mendekati perundingan nuklir lebih lanjut, tetapi ia menekankan bahwa negosiator tingkat kerja Korut harus diberdayakan untuk membahas denuklirisasi - sesuatu yang tidak terjadi menjelang Hanoi.

“Kami siap merangkul semua inisiatif penuh yang dilakukan oleh dua pemimpin kami, tetapi kami harus mendiskusikan semuanya,” ucap Biegun.

“Kami tidak dapat membuat kemajuan tanpa langkah-langkah yang bermakna dan dapat diverifikasi mengenai denuklirisasi. Ini benar-benar inti dari ini, itu yang menghasilkan momen ini untuk memulai," imbuhnya seperti dilansir dari Reuters, Kamis (20/6/2019).

Biegun mengatakan bahwa sementara tidak ada pembicaraan tingkat kerja dengan Korut sejak KTT Hanoi, ada banyak komunikasi antara pemerintah kedua negara

"Pintu terbuka lebar untuk negosiasi dan kami menduga dan berharap bahwa dalam waktu yang tidak terlalu lama kita akan terlibat kembali dalam proses ini secara substantif," ujarnya.

Namun, Biegun mengakui bahwa meskipun lebih dari satu tahun terlibat pembicaraan dengan Korut, kedua belah pihak masih belum memiliki definisi yang disepakati tentang "denuklirisasi," dan menambahkan: "Kami menganggap bahwa titik awal yang sangat penting: Kami tidak akan pernah sampai ke tujuan kami jika kita tidak tahu ke mana kita pergi."

Biegun menekankan peran positif yang dimainkan China dalam upaya membujuk Korut untuk melepaskan senjata nuklirnya dan mengatakan "setiap harapan" bahwa presiden China Xi Jinping akan mengirim pesan konstruktif mengenai masalah ini selama kunjungan ke Pyongyang minggu ini.

Sementara itu, berbicara pada acara yang sama, mitra Biegun asa Korea Selatan (Korsel) Lee Do-hoon menyerukan pertemuan puncak keempat antara Kim dan Presiden Moon Jae-in.

"Saya mendesak Korea Utara untuk menanggapi undangan luar biasa Presiden Moon untuk mengadakan KTT antar-Korea, jika mungkin, sebelum Presiden Trump mengunjungi Korea minggu depan," kata Lee.

Trump berencana akan mengunjungi Seoul minggu depan untuk pertemuan dengan Moon setelah mengambil bagian dalam pertemuan G20 di Jepang.

KTT Trump dengan Jong-un di Hanoi gagal setelah kedua belah pihak tidak menemui kata sepakat untuk merekonsiliasi tuntutan AS agar Korut menyerahkan senjata nuklirnya dan tuntutan Korut untuk mencabut sanksi internasional yang dipimpin oleh AS.

Korut tidak menanggapi berulang kali permintaan AS dan Korsel untuk melanjutkan pembicaraan sejak itu, meskipun Trump mengatakan pekan lalu ia menerima surat "indah" dari Kim Jong-un. Trump mengatakan dia berpikir sesuatu yang positif akan terjadi dengan Pyongyang tetapi tidak memberikan perincian dan mengatakan dia tidak terburu-buru untuk membuat kesepakatan.
(ian)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak