alexametrics

Sudan Memanas, Demonstran Sebut Pasukan Keamanan Bantai 35 Orang

loading...
Sudan Memanas, Demonstran Sebut Pasukan Keamanan Bantai 35 Orang
Para demonstran di Khartoum, Sudan, membakar ban pada Senin (3/6/2019). Foto/Anadolu
A+ A-
KHARTOUM - Situasi di Ibu Kota Sadan, Khartoum, semakin memanas. Demonstran menuduh pasukan keamanan negara itu melakukan pembantaian berdarah dengan korban tewas sudah mencapai 35 orang.

Pada hari Senin pasukan keamanan menyerbu kamp demonstran di Khartoum, yang tercatat sebagai kekerasan terburuk sejak penggulingan Presiden Omar al-Bashir. Kekerasan ini memicu kecaman global.

Asosiasi Profesional Sudan (SPA), yang memelopori protes nasional sejak Desember lalu, mengatakan tindakan keras pada hari Senin merupakan "pembantaian berdarah".



"Kami menganggap Dewan Militer Transisi (TMC) bertanggung jawab atas apa yang terjadi pagi ini (Senin)," kata SPA, merujuk pada dewan militer yang saat ini mengendalikan negara.

Para pemimpin pro-demokrasi telah meminta orang-orang untuk ambil bagian dalam pawai malam dan memblokir jalan-jalan utama sebagai bagian dari "pembangkangan sipil total" untuk "melumpuhkan kehidupan publik" di seluruh negeri.

Sebuah komite dokter yang terkait dengan para pengunjuk rasa mengatakan dalam sebuah posting Facebook pada hari Senin bahwa jumlah korban jiwa, termasuk seorang anak, telah meningkat menjadi setidaknya 35 orang. Komite itu mengaku kesulitan menghitung jumlah korban di area protes duduk di luar kompleks militer di Khartoum.

Menurut komite tersebut, ratusan orang telah terluka, yang sebagian besar akibat tembakan. Para saksi mata mengatakan para demonstran ditembak mati dan mayatnya dibuang di Sungai Nil dekat tempat aksi protes berlangsung.

PBB mengecam penggunaan kekuatan berlebihan oleh pasukan keamanan terhadap para pemrotes dan menyerukan penyelidikan independen atas pembunuhan tersebut.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa ia terkejut oleh laporan bahwa pasukan keamanan melepaskan tembakan ke dalam sebuah rumah sakit di Khartoum.

"Yang jelas bagi kami adalah bahwa ada penggunaan kekuatan berlebihan oleh pasukan keamanan terhadap warga sipil. Orang-orang telah tewas. Orang-orang terluka," kata juru bicara PBB Stephane Dujarric, seperti dikutip Al Jazeera, Selasa (4/6/2019).

Guterres mendesak pihak berwenang Sudan untuk memfasilitasi penyelidikan independen atas kematian dan memastikan bahwa mereka yang bertanggung jawab dimintai pertanggungjawaban. Dia juga memperbarui seruannya untuk negosiasi guna melanjutkan transfer kekuasaan secara damai ke otoritas yang dipimpin sipil.

Komite dokter mengatakan pasukan telah melepaskan tembakan di dalam Rumah Sakit East Nile dan mengejar pengunjuk rasa damai. Rumah sakit lain di dekat lokasi aksi protes duduk telah dikepung dan para sukarelawan dicegah untuk menjangkaunya.

Duta Besar Inggris untuk Sudan, Irfan Siddiq, melalui Twitter mengatakan serangan terhadap rumah sakit dan klinik adalah tindakan "menentang kepercayaan".

"Mereka yang terluka dalam serangan mengerikan hari ini membutuhkan akses tanpa hambatan ke perawatan medis," katanya. "Pusat medis harus menjadi tempat yang aman."

Militer Bantah


TMC membantah serangan terhadap rumah sakit. Juru bicaranya, Letnan Jenderal Shams El Din Kabbashi mengatakan pasukan keamanan mengejar kelompok-kelompok yang tidak bisa diatur, yang telah melarikan diri ke lokasi protes dan menyebabkan kekacauan.

"Dewan Militer Transisi menyesali situasi seperti ini berkembang, menegaskan kembali komitmen penuhnya untuk keselamatan warga dan memperbarui seruannya untuk negosiasi sesegera mungkin," kata TMC dalam sebuah pernyataan.

Selama masa transisi dua tahun sampai pemilu presiden, Dewan Militer Transisi akan memegang kendali negara tersebut.

Uni Afrika telah meminta TMC dan para pemimpin protes untuk kembali ke negosiasi. Seruan serupa disampaikan Qatar dan Jerman. Amerika Serikat menyebut serangan pada hari Senin "salah" dan harus dihentikan.
(mas)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak