alexametrics

Irak Desak Iran untuk Hormati Kesepakatan Nuklir

loading...
Irak Desak Iran untuk Hormati Kesepakatan Nuklir
Menteri Luar Negeri Irak, Mohamed Ali Alhakim mendesak Iran untuk menghomati kesepakatan nuklir yang diteken tahun 2015 dengan negara kekuatan dunia. Foto/Istimewa
A+ A-
BAGHDAD - Menteri Luar Negeri Irak, Mohamed Ali Alhakim mendesak Iran untuk menghomati kesepakatan nuklir yang diteken tahun 2015 dengan negara kekuatan dunia. Alhakim mengatakan, Timur Tengah tidak membutuhkan konflik baru, merujuk pada ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Iran.

"Kami pikir JCPOA adalah perjanjian yang baik," kata Alhakim dalam sebuah pernyataan, menggunakan nama resmi kesepakatan nuklir Iran, seperti dilansir Russia Today pada Minggu (26/5).

"Kami mendorong pemerintah Iran untuk tetap berpegang pada JCPOA dan tetap berpegang pada semangat perjanjian dan melanjutkannya. Hal terakhir yang kami butuhkan adalah konflik lain di wilayah. Saya tidak berpikir ada orang yang mau USD 200 per barel minyak segera hadir," sambungnya.



Terkait dengan ketegangan AS-Iran, seorang jenderal senior militer Teheran mengatakan, orang-orang dan komandan militer AS yang rasional akan mencegah perang dengan Iran.

"Kami percaya orang Amerika yang rasional dan komandan mereka yang berpengalaman tidak akan membiarkan 'elemen radikal'-nya menuntun mereka ke dalam situasi di mana akan sangat sulit untuk keluar, dan itulah sebabnya mereka tidak akan memasuki perang," kata Brigadir Jenderal Hassan Seifi, asisten panglima militer Iran.

"Selama bertahun-tahun AS mampu menilai secara akurat kekuatan angkatan bersenjata kita. Dan untuk alasan itu, (AS) tidak pernah mencoba menyerang Iran secara langsung," sambungnya.

Dia menambahkan bahwa Washington tidak akan melakukan perang terbuka terhadap Teheran, karena tentara Iran akan menimbulkan kerugian besar pada pasukan Amerika dan memberikan pukulan bagi "prestise internasional" Washington.
(esn)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak