alexametrics

Roket Katyusha Ditembakkan ke Dekat Kedubes AS di Baghdad

loading...
Roket Katyusha Ditembakkan ke Dekat Kedubes AS di Baghdad
Para tentara Amerika Serikat (AS) siaga di Baghdad, Irak, setelah roket menghantam Zona Hijau di kota Irak itu, Minggu (19/5/2019). Foto/REUTERS
A+ A-
BAGHDAD - Sebuah roket Katyusha ditembakkan ke kawasan Zona Hijau Baghdad yang dekat dengan Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat (AS) di Irak pada hari Minggu. Serangan ini hanya berselang beberapa hari setelah Washington mengevakuasi para staf diplomatiknya dari Irak dengan alasan ada ancaman dari Iran.

"Sebuah roket Katyusha menghantam Zona Hijau tanpa menyebabkan korban," kata layanan keamanan Irak dalam sebuah pernyataan singkat tanpa memberikan rincian lebih lanjut, sebagaimana dikutip AFP, Senin (20/5/2019).

Menurut militer Irak lokasi serangan roket dengan kantor Kedubes Irak berjarak sekitar satu mil.



Ketegangan antara AS dan Iran mulai memanas sejak Washington menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 antara Teheran dan kekuatan-kekuatan utama dunia. Keluarnya Iran dari kesepakatan nuklir itu diikuti dengan pemulihan sanksi terhadap Teheran. Sejak itu, perang kata-kata terus berlangsung antara kedua pihak yang dikhawatirkan berakhir dengan konflik militer.

Awal bulan ini, administrasi Presiden AS Donald Trump mengirim Kelompok Tempur Kapal Induk USS Abraham Lincoln dan pesawat-pesawat pengebom B-52 ke dekat wilayah Iran. Pengerahan peralatan perang canggih itu sebagai pesan yang kuat kepada Iran yang diklaim Washington berencana akan menyerang pasukan Washington dan kepentingannya di Timur Tengah.

Belum jelas siapa yang berada di balik serangan roket Katyusha pada hari Minggu. Tetapi seorang sumber kepolisian mengatakan kepada AFP bahwa laporan awal menunjukkan bahwa roket itu ditembakkan dari lapangan terbuka di Baghdad selatan.

Zona Hijau adalah salah satu tempat institusional dengan keamanan paling tinggi di dunia. Zona itu terletak di pusat ibu kota Irak, tempat gedung parlemen, kantor perdana menteri, kantor kepresidenan, lembaga-lembaga penting lainnya, rumah pejabat tinggi dan kedutaan besar asing.

Kedutaan AS di Baghdad—yang terbesar di dunia—terletak di lingkungan berbenteng, yang juga dikenal sebagai Zona Internasional. Kedutaan itu dikelilingi oleh tembok beton.

Pada bulan April tahun ini, Arab Saudi juga membuka kompleks konsulat baru di Zona Hijau setelah puluhan tahun tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Irak.

Pada September tahun lalu, para penyerang menembakkan tiga mortir ke Zona Hijau, dalam serangan langka yang tidak menyebabkan korban atau kerusakan. Tidak ada yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.

Pada bulan yang sama AS menutup konsulatnya di Basra dan memerintahkan semua staf kecuali staf darurat untuk meninggalkan kota pelabuhan selatan yang dilanda protes berminggu-minggu dan pindah ke Baghdad.

Pada saat itu, Menteri Luar Negeri AS Michael Pompeo menyalahkan militan Iran atas tembakan tiga mortir, yang dia sebut menyasar konsulat AS.

Serangan roket Katyusha pada hari Minggu terjadi ketika Irak mengecam keputusan "politik" raksasa energi AS, ExxonMobil, untuk mengevakuasi stafnya dari ladang minyak selatan negara itu.

"Penarikan sementara karyawan tidak ada hubungannya dengan keamanan di ladang minyak Irak selatan atau ancaman apa pun," kata Menteri Perminyakan Thamer al-Ghadban.

"Alasannya politis dan mungkin terkait dengan ketegangan di kawasan ini," ujarnya dalam pernyataan yang dikeluarkan oleh kementerian perminyakan.

Ghadban menyebut langkah itu untuk menarik staf dari ladang minyak Qorna Barat di barat Basra tidak dapat diterima dan tidak bisa dibenarkan.

Exxon tidak mengonfirmasi penarikan stafnya. "Kami sedang memantau dengan seksama. Terkait praktik tersebut, kami tidak membagikan secara spesifik perihal dengan staf operasional di fasilitas kami," kata Exxon melalui seorang juru bicara.
(mas)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak