alexametrics

Trump Bantah Rencana AS Kerahkan 120.000 Tentara ke Timur Tengah

loading...
Trump Bantah Rencana AS Kerahkan 120.000 Tentara ke Timur Tengah
Presiden Amerika Serikat Donald John Trump. Foto/REUTERS/Jonathan Ernst
A+ A-
WASHINGTON - Presiden Donald John Trump membantah laporan media Amerika Serikat (AS) bahwa Pentagon berencana mengerahkan 120.000 tentara ke Timur Tengah di saat ketegangan dengan Iran memanas. Presiden meledek laporan itu dengan menyebutnya sebagai fake news atau berita palsu.

Laporan itu diterbitkan New York Times dan CNN baru-baru ini. Menurut laporan itu, kehadiran militer AS dapat meluas ke level seperti saat invasi Irak.

Pentagon sejauh ini telah mengerahkan Kelompok Tempur Kapal Induk USS Abraham Lincoln dan beberapa pesawat pengebom B-52 ke Timur Tengah. Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih John Bolton mengatakan pengerahan peralatan perang itu sebagai pesan yang jelas kepada Teheran bahwa setiap serangan terhadap pasukan AS atau kepentingannya di Timur Tengah akan mendapat respons yang tak ada henti-hentinya.



Presiden Trump menegaskan rencana pengerahan ratusan ribu tentara seperti itu tidak akan diperlukan. Namun, pada saat yang sama, dia mengatakan bahwa jika diperlukan pengerahan pasukan akan lebih dari itu.

"Apakah saya akan melakukan itu? Tentu saja. Tetapi kita belum merencanakan untuk itu. Mudah-mudahan kita tidak harus merencanakan untuk itu. Dan jika kita melakukan itu, kita akan mengirim pasukan yang jauh lebih banyak daripada itu," kata Trump, seperti dikutip Sputnik, Rabu (15/5/2019).

Utusan Iran untuk PBB, Majid Takht Ravanchi, menuduh AS mengobarkan "perang psikologis" terhadap Teheran. Dia mengomentari laporan CNN yang mengatakan bahwa Pentagon diduga mempresentasikan rencana untuk mengerahkan 120.000 pasukan tambahan ke Timur Tengah jika Iran memutuskan untuk mengembangkan senjata nuklir.

Ravanchi menunjukkan bahwa Iran tidak tertarik menciptakan ketegangan di kawasan Timur Tengah, tidak seperti negara-negara lain.

"Kami tidak sedang dalam urusan untuk mencoba menciptakan konflik di lingkungan kami, karena tidak ada yang akan mendapat manfaat dari konflik semacam itu di wilayah kami kecuali beberapa orang di Washington dan beberapa negara di lingkungan kami," katanya.

Diplomat Iran itu mengaku gagal memahami ancaman yang dikeluarkan sebelumnya oleh Presiden Trump, yang mengklaim bahwa akan menjadi kesalahan yang sangat buruk jika Iran melakukan sesuatu kepada pasukan AS yang ditempatkan di Timur Tengah.

Ravanchi menekankan bahwa orang-orang Amerika telah dikerahkan di wilayah Teluk Persia, jauh dari tanah air mereka, sementara Iran tidak pernah mendekati perbatasan AS dengan senjata.

Dia lebih lanjut berpendapat bahwa pendekatan Washington saat ini untuk berkomunikasi dengan Iran tidak akan membuahkan hasil dan tidak akan menghasilkan perubahan pada kebijakannya.

"Kebijakan tekanan maksimum dan tawaran dialog adalah saling eksklusif. Itu tidak dapat mengharapkan Iran menerima tawaran di bawah tekanan. Kami tidak dapat menerima dialog berdasarkan paksaan, berdasarkan intimidasi dan ancaman," kata Ravanchi.
(mas)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak