alexametrics

Jadi Korban Bom Paskah, Pria Ini Harus Melihat Anak dan Istri Meninggal Ditangannya

loading...
Jadi Korban Bom Paskah, Pria Ini Harus Melihat Anak dan Istri Meninggal Ditangannya
Sudesh Kolonne bersama anaknya Alexendria dan istrinya Manik Suriyaaratchi. Foto/Istimewa
A+ A-
KOLOMBO - Tidak terbayang kesedihan yang dialami oleh Sudesh Kolonne. Pria Australia-Sri Lanka ini harus kehilangan anak dan istrinya dalam serangkaian serangan bom terkoordinasi yang mengguncang Sri Lanka pada Minggu Paskah pekan lalu.

Kolonne harus kehilangan anaknya Alexendria Kolonne yang berusia 10 tahun dan istrinya Manik Suriyaaratchi saat seorang pembom bunuh diri melakukan aksinya di Gereja St Sebastian, di Negombo, satu jam perjalanan ke utara ibu kota Kolombo. Lebih dari 100 orang tewas di sini yang menjadikannya lokasi pemboman dengan korban tewas tertinggi.

Kolonne mengungkapkan pada saat serangan bom itu terjadi, ia berada di luar gereja karena tidak ada kursi yang tersisa di dalam. Saat itu gereja dipenuhi oleh jamaah yang menghadiri misa Paskah. Kebaktian berakhir ketika penyerang masuk ke gereja dan meledakkan bom di tasnya.



Ketika dia mendengar ledakan itu, dia berlari masuk dan mencari istri dan putrinya dengan putus asa. Butuh 30 menit untuk menemukannya.

"Sangat gelap dan penuh debu," kata Kolonne kepada CNN di rumahnya di Negombo, Jumat (26/4/2019). "Aku berdoa dan mencari. Akhirnya, aku menemukan putriku," imbuhnya

"Istri saya berusaha mengatakan sesuatu," kata Kolonne. "Dan saya mencoba mengangkatnya ke rumah sakit. Saya pikir dia meninggal dalam perjalanan dengan ambulans," sambungnya.

"Keduanya meninggal di depan saya," kata pria 46 tahun itu. "Keduanya mati di tanganku."

Beberapa jam sebelumnya, keluarga yang memiliki kewarganegaraan ganda itu telah bersiap-siap untuk menggelar misa Paskah di rumah. Alexendria bahkan punya pakaian khusus untuk acara itu.

"Keduanya sangat gembira pada hari Minggu untuk pergi ke gereja untuk Misa," ujarnya Kolonne.

Istrinya, Manik Suriyaaratchi, adalah seorang pengusaha berusia 45 tahun dan penganut Katolik yang taat. Kolonne sendiri yang bekerja sebagai seorang konsultan pendidikan, adalah seorang penganut Buddha. Dia mengatakan mereka berdua suka merayakan agama-agama lain.

Pasangan itu, baik warga negara Australia yang lahir di Sri Lanka dan dinaturalisasi, bertemu 25 tahun lalu. Mereka menikah pada 2005 dan kembali ke Sri Lanka pada 2014. Kolonne membagi waktunya antara Melbourne dan Negombo.

"Kami memiliki keluarga yang sangat baik. Terutama putriku," katanya. "(Ini) kehilangan yang luar biasa. Keluargaku sudah tiada," ujarnya lirih.

Alexendria dan Manik dimakamkan bersama di pemakaman pribadi di pemakaman selatan Negombo pada hari Selasa.

Banyak dari korban lain dari serangan Gereja St Sebastian dimakamkan untuk beristirahat bersama di sebuah situs pemakaman massal dekat dengan gereja, yang dibuka untuk menampung jasad yang jumlahnya sangat banyak.

Serangkaian upacara berlangsung di gereja itu setiap hari, dengan kerabat membawa peti mati di bawah terik matahari ketika pelayat mengelilingi mereka untuk berduka dan menyanyikan lagu-lagu pujian.

Tetapi pihak keluarga korban bahkan tidak bisa berduka dalam damai.

Kekhawatiran serangan lebih lanjut pada pertemuan massa telah menyebabkan keamanan yang lebih tinggi - dengan kerabat harus meletakkan orang yang mereka cintai untuk beristirahat dengan cepat, dikelilingi oleh tentara yang bersenjata lengkap. Bahkan mobil jenazah harus menjalani pemeriksaan keamanan.

Sebuah upacara peringatan massal yang direncanakan di Gereja St Sebastian pada hari Selasa terpaksa dipercepat, setelah peringatan polisi tentang potensi ancaman memaksa para Pastor untuk membatasinya untuk melindungi ratusan pelayat.
(ian)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak