alexametrics

Tragedi 8 Bom Sri Lanka: Orang-orang Diseret, Darah di Mana-mana....

loading...
Tragedi 8 Bom Sri Lanka: Orang-orang Diseret, Darah di Mana-mana....
Kondisi Gereja Santo Sebastian di Negombo, Sri Lanka, hancur berantakan setelah bom meledak hari Minggu (21/4/2019). Foto/Facebook/St. Sebastian's Church
A+ A-
KOLOMBO - Delapan bom mengguncang tiga gereja, empat hotel dan sebuah rumah di Sri Lanka, Minggu (21/4/2019). Berbagai adegan dan pemandangan menyayat hati diceritakan para korban selamat.Data korban jiwa hingga Senin (22/4/2019) telah mencapai 215 orang. Lebih dari 400 orang lainnya terluka.
Tiga gereja berada berada di antara target delapan bom. Ketiganya adalah Kuil Santo Anthony di distrik Kochchikade di Kolombo, Gereja Santo Sebastian di Negombo dan Gereja Sion di kota Batticaloa.

Lima lokasi ledakan lainnya adalah Hotel Cinnamon Grand, Shangri-La, Kingsbury, serta sebuah hotel di dekat Kebun Binatang Nasional. Bom kedelapan meledak di sebuah rumah selama operasi keamanan berlangsung.

Dari rekaman video yang menyebar di media sosial menunjukkan ledakan kuat menghancurkan langit-langit dan meniup jendela gereja-gereja dan hotel. Para jemaat gereja dan tamu hotel saling menjerit di antara asap, darah, pecahan kaca, dan raungan alarm.



"Orang-orang diseret keluar," kata Bhanuka Harischandra dari Kolombo. Dia adalah pendiri perusahaan pemasaran teknologi berusia 24 tahun yang akan pergi ke Hotel Shangri-La untuk pertemuan ketika bom meledak.

"Orang-orang tidak tahu apa yang sedang terjadi. Itu adalah mode panik," lanjut dia, seperti dikutip Al Jazeera, Selasa (22/4/2019). "Ada darah di mana-mana," imbuh dia.

Presiden Maithripala Sirisena memerintahkan kepolisian bertindak tegas terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam serangan bom tersebut.

"Saya telah memberikan instruksi untuk mengambil tindakan tegas terhadap orang-orang yang bertanggung jawab atas konspirasi ini," kata Presiden Sirisena.

Juru bicara kepolisian Ruwan Gunasekera mengatakan bahwa para korban luka telah dievakuasi. Pasukan keamanan telah menutup area lokasi ledakan untuk melakukan operasi pencarian korban.

Tidak ada pihak atau kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas serangkaian serangan bom itu.

Ledakan bom pertama dan dua bom selanjutnya di Kolombo hanya berselang setengah jam. Sumber di kepolisian mengatakan kepada AP bahwa pihak berwenang mencurigai setidaknya dua ledakan disebabkan oleh pelaku bom bunuh diri.

Sementara itu, Menteri Telekomunikasi Harin Fernando merilis surat peringatan intelijen Sri Lanka yang sudah memperingatkan kemungkinan adanya serangan teroris sepuluh hari sebelum delapan bom mengguncang negara itu. Menteri itu mempertanyakan mengapa otoritas keamanan mengabaikan peringatan tersebut.

Surat peringatan dari intelijen dikirim sejak 11 April. Dalam suratnya, intelijen Sri Lanka mengeluarkan peringatan nasional tentang kemungkinan serangan bom bunuh diri yang direncanakan terhadap Gereja Katolik dan Komisi Tinggi India di Kolombo. Menurut surat tersebut, serangan teroris kemungkinan akan dilancarkan organisasi Islam garis keras bernama National Thowheed Jamath.

"Beberapa petugas intelijen mengetahui kejadian ini. Karena itu ada penundaan dalam tindakan. Apa yang ayah saya dengar juga dari seorang perwira intelijen. Tindakan serius perlu diambil mengapa peringatan ini diabaikan. Saya berada di Badulla tadi malam," tulis Fernando di akun Twitter-nya, @fernandoharin yang dikutip Senin (22/4/2019).

Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe mengakui adanya peringatan intelijen tersebut. "Kita juga harus melihat mengapa tindakan pencegahan yang memadai tidak dilakukan," katanya.

Polisi mengatakan 13 tersangka telah ditangkap sehubungan dengan rentetan pemboman tersebut. Menurut Wickremesinghe para tersangka adalah warga lokal. "Tetapi para penyelidik akan memeriksa apakah para penyerang memiliki hubungan di luar negeri," katanya.
(mas)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak