alexametrics

PM Ardern Mengajak Semua Warganya Bersatu Melawam Kejahatan

loading...
PM Ardern Mengajak Semua Warganya Bersatu Melawam Kejahatan
PM Ardern Mengajak Semua Warganya Bersatu Melawam Kejahatan
A+ A-
WELLINGTON - Azan salat Jumat disiarkan langsung di seluruh Selandia Baru untuk memberikan semangat dan menunjukkan solidaritas untuk mengenang 50 orang yang ditembak mati di dua masjid sepekan lalu. Perdana Menteri (PM) Selandia Baru Jacinda Ardern bergabung dengan 20.000 orang berdiri di Hagley Park, di depan masjid Al-Noor, di mana sebagian besar korban ditembaki pada salat Jumat pekan lalu.

Adern menegaskan, penembakan tersebut sebagai serangan teror dan mengumumkan pelarangan senjata semi-otomatis dan senapan serbu. “Selandia Baru berduka bersama kalian. Kita adalah satu,” kata Ardern pada pidato pendek dan diikuti mengheningkan cipta selama dua menit, dilansir Reuters. Padahal, muslim hanya 1% dari populasi rakyat Selandia Baru.

Ardern mendorong sebanyak mungkin warga Selandia Baru untuk meluangkan waktu berhenti sejenak dan merenung. “Saya tahu banyak warga Selandia Baru ingin menandai sepekan yang telah berlalu sejak serangan teroris dan mendukung komunitas muslim seiring mereka kembali ke masjid,” ajaknya.



Dia mengungkapkan, apa yang direnungkan selama pengheningan akan berbeda-beda. “Semua orang harus melakukan apa yang terasa pas bagi mereka, di manapun mereka berada di rumah, di tempat kerja, di sekolah,” ujarnya. Bahkan ada ajakan di media sosial meminta perempuan non-muslim di Selandia baru mengenakan kerudung untuk sehari.

Selandia Baru menerapkan pengamanan superketat sejak serangan pembunuhan massal tersebut. Mereka juga menginvestigasi ancaman terhadap Ardern di Twitter. New Zealand Herald melaporkan unggahan Twitter yang menunjukkan foto senjata dan tulisan “Kamu adalah selanjutnya” dikirim kepada PM Ardern. Reuters tidak bisa memverifikasi laporan tersebut secara independen.

Warga Australia Brenton Tarrant, 28, penganut ideologi supremasi kulit putih, didakwa melakukan pembunuhan dan sudah dihadapkan ke pengadilan. Dia akan kembali menghadap persidangan pada 5 April nanti. Polisi mengatakan, Tarrant diperkirakan akan menghadapi lebih banyak dakwaan. Sebagian besar korban penembakan adalah migran dan pengungsi dari berbagai negara, seperti Pakistan, India, Malaysia, Indonesia, Turki, Somalia, Afghanistan, dan Bangladesh.

“Kita patah hati, tetapi kita terluka. Kita bangkit, dan kita bersama. Kita memutuskan untuk tidak membiarkan siapa pun memecah belah kita,” kata Imam Gamal Fouda, kepada kerumunan warga di depan Masjid Al-Noor yang mengenakan kerudung sebagai dukungan bagi komunitas muslim yang sedang berduka.

Fouda juga menyampaikan pesan kepada keluarga korban. “Darah mereka menumbuhkan benih harapan,” ungkapnya dalam khotbah yang disiarkan secara nasional di Selandia Baru. Dalam khotbah yang penuh semangat selama 20 menit, Fouda mengungkapkan dengan cinta dan semangat, Selandia Baru tidak akan terkalahkan.

“Kita di sini ratusan dan ribuan bersatu untuk satu tujuan, untuk menunjukkan kebencian bisa dikalahkan dan cinta akan menebus kita,” paparnya. Dia juga mengucapkan terima kasih kepada Ardern atas semangatnya. “Ini akan menjadi pelajaran bagi para pemimpin dunia lainnya,” pujinya.

Founda menyalahkan Islamofobia yang memicu insiden penembakan. “Islamofobia itu nyata. Itu menargetkan kampanye untuk memengaruhi orang untuk melakukan dehumanisasi dan menakuti umat Islam. Untuk menakuti apa yang kita pakai, menakuti pilihan makanan yang kita makan, menakuti cara kita berdoa, dan menakuti cara kita menjalankan kepercayaan kita,” jelasnya.

Ribuan warga Selandia Baru memberikan penghormatan di seluruh negeri. Mereka membentuk rantai manusia di depan masjid-masjid. Banyak orang berdoa di sekolah, kafe, dan kantor. Empati dan simpati ditunjukkan warga Kota Christchurch dengan memasang antara lain berupa spanduk atas keluarga korban dan bagi umat Islam di kota itu.

Sebagian warga itu juga melakukan gerakan solidaritas dengan bergandengan tangan untuk menunjukkan semangat kebersamaan serta memberikan perlindungan kepada umat Islam yang sedang berduka. Sementara itu, seluruh perempuan yang menghadiri acara di masjid sebagai bentuk solidaritas mengenakan kerudung. Seorang dokter di Auckland, Thaya Ashman, datang dengan ide untuk mendorong orang mengenakan kerudung.

Itu sebagai bentuk penyemangat bagi kaum muslimah agar tidak perlu takut menjadi target serangan teroris. “Saya ingin mengatakan, ‘kita bersama kamu. Kita ingin kamu merasakan di rumah saat kamu berada di jalanan. Kita cinta, dukung, dan menghargai kamu’,” ujar Ashman. PM Ardern juga selalu mengenakan kerudung saat bertemu dengan komunitas muslim.

Sebelumnya, PM Ardern menegaskan, Selandia Baru akan melarang semua jenis senjata semi-otomatis seperti yang digunakan dalam penembakan masjid di Christchurch. Ardern berharap undang-undang baru itu mulai berlaku pada 11 April mendatang.

“Pihak berwenang akan menyiapkan skema pembelian kembali untuk senjata yang dilarang dan menerapkan langkah-langkah untuk mencegah pemborongan sebelum aturan baru berlaku,” kata Ardern. “Sekarang, enam hari setelah serangan ini, kami mengumumkan larangan terhadap semua jenis senjata semi-otomatis gaya militer (MSSA) dan senapan serbu di Selandia Baru," ujarnya.

Dia mengungkapkan, petugas kepolisian akan menyiapkan skema pembelian kembali untuk senjata yang dilarang dan menerapkan langkah-langkah untuk mencegah pemborongan sebelum aturan baru berlaku. "Alat-alat terkait yang digunakan untuk mengubah senjata menjadi MSSA juga dilarang, beserta dengan semua magasin kapasitas tinggi,” paparnya.

Menjawab dampak larangan ini kepada pemilik senjata api, PM Ardern mengatakan, akan ada sedikit pengecualian terbatas bagi para petani Selandia Baru. “Kami juga mengakui bahwa beberapa senjata digunakan secara sah di komunitas pertanian kami dan karena itu menetapkan pengecualian bagi senapan kaliber 0,22 dan senapan berburu yang biasa digunakan untuk berburu bebek," ujarnya dilansir BBC.
(don)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak