alexametrics

Akun Anti-Islam Ancam Bunuh PM Selandia Baru Jacinda Ardern

loading...
Akun Anti-Islam Ancam Bunuh PM Selandia Baru Jacinda Ardern
Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengenakan kerudung saat memeluk warga Muslim saat berkunjung ke Christchurch. Foto/ABC.net.au
A+ A-
WELLINGTON - Perdana Menteri (PM) Selandia Baru Jacinda Ardern mendapat ancaman pembunuhan via Twitter setelah dia mendukung komunitas Muslim korban serangan teroris di dua masjid kota Christchurch. Akun pengancam berisi konten anti-Islam dan pidato ujaran kebencian kelompok supremasi kulit putih.

Kepolisian setempat turun tangan untuk menyelidiki ancaman pembunuhan itu. Ancaman yang di-posting di Twitter berupa foto pistol dan tulisan "You are next (Anda selanjutnya)" dikirim ke PM Ardern.

Posting itu sudah muncul selama lebih dari 48 jam sebelum akun Twitter pengancam ditangguhkan pukul 16.00 pada Jumat (22/3/2019) setelah dilaporkan oleh beberapa orang.



Ada posting Twitter lain yang juga ditujukan kepada Ardern. Menurut polisi, bunyi posting ancaman pembunuhan itu adalah "Next it's you (Selanjutnya itu Anda)".

Serangan teroris menghantam Christchurch, Selandia Baru, Jumat pekan lalu. Jumlah korban meninggal awalnya dinyatakan 50 orang, namun telah direvisi kepolisian setempat menjadi 49 orang. Puluhan lainnya mengalami luka tembak.

Pelaku serangan teroris adalah Brenton Harrison, 28, asal Australia. Teroris tersebut meninggalkan manifesto yang menjelaskan siapa dirinya dan mengapa dia menyerang dua masjid di Christchurch.

Penembakan berdarah yang dilakukan Tarrant berlangsung saat salat Jumat di Masjid Al-Noor dan Masjid Linwood.

Sebagai buntut dari serangan teroris, Ardern bersumpah untuk mereformasi undang-undang senjata di negaranya. Ardern pada hari Kamis (21/3/2019) mengumumkan larangan penggunaan senjata semi-otomatis bergaya militer dan senapan serbu.
(mas)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak