alexametrics

Ulama Bilang Iran Punya Formula untuk Bikin Bom Nuklir

loading...
Ulama Bilang Iran Punya Formula untuk Bikin Bom Nuklir
Ahmad Khatami, ulama garis keras Iran mengklaim negaranya memiliki formula untuk membuat bom nuklir. Foto/ISNA
A+ A-
TEHERAN - Seorang ulama garis keras dan berpengaruh di Iran, Ahmad Khatami, mengatakan negaranya memiliki formula untuk membuat bom nuklir. Namun, dia menegaskan negaranya tidak berniat membuat senjata pemusnah massal tersebut.

Kantor berita IRNA melaporkan pernyataan Khatami itu disampaikan dalam sebuah acara doa di Mashhad pada 9 Februari. "Iran tidak pernah memiliki niat untuk membangun bom atom. Tentu saja kami memiliki formula tetapi kami tidak ingin menggunakan senjata pemusnah massal," katanya.

Para pejabat Iran selalu membantah ada langkah menuju pembuatan senjata nuklir. Pada kesempatan ini, Khatami tidak memberikan informasi lebih lanjut tentang kepemilikan formula yang dia maksud.



Di Iran, Khatami dipandang sebagai pendukung setia Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Dia kerap mengulangi atau menggemakan posisinya di kubu garis keras.

Tiga tahun lalu, kepala Badan Energi Atom Internasional Yukiya Amano melaporkan bahwa sebelum tahun 2003 dan hingga 2009 Iran melakukan kegiatan untuk mengembangkan pengetahuan tentang ledakan nuklir.

Iran telah mampu memperkaya uranium hingga 20 persen, dan relatif mudah untuk memperkaya uranium lebih dari 90 persen—jumlah yang dibutuhkan untuk membuat bom nuklir.

Pada hari Minggu (10/2/2019), Khatami berbicara tentang kekuatan nuklir dan militer dengan mengatakan bahwa Amerika Serikat (AS) mampu menahan pengembangan program nuklir Iran dan sekarang rudal balistik adalah satu-satunya yang tersisa untuk Iran.

Khatami juga mengakui bahwa sanksi AS telah menyebabkan kesulitan bagi rakyat. Dia mengklaim inisiatif Khamenei untuk menangani krisis ekonomi telah membantu mencegah dampak yang jauh lebih buruk.
(mas)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak