alexametrics

Erdogan Panggul Peti dan Salat Jenazah Korban Apartemen Runtuh

loading...
Erdogan Panggul Peti dan Salat Jenazah Korban Apartemen Runtuh
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memanggul peti jenazah korban apartemen runtuh di Istanbul. Dia ikut salat jenazah dan menghadiri pemakaman para korban. Foto/The National via AP
A+ A-
ISTANBUL - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan termasuk di antara ratusan pelayat yang menghadiri pemakaman para korban tewas dalam insiden runtuhnya gedung apartemen di Istanbul pada hari Sabtu. Dia ikut memanggul peti mati dan salat untuk jenazah korban.

Korban meninggal hingga kini meningkat menjadi 21 orang. Erdogan dan pejabat lainnya bergabung dalam salat jenazah untuk keluarga Alemdar setelah kunjungan pertama presiden ke lokasi tragedi itu hari Rabu lalu. Lima anggota keluarga Alemdar lainnya, termasuk dua anak, masih dirawat di rumah sakit.

Penyebab runtuhnya gedung apartamen pada hari Rabu tersebut sedang diselidiki. Namun, para pejabat mengatakan tiga lantai teratas dari bangunan delapan lantai di distrik Kartal itu dibangun secara ilegal.



"Di bidang ini, kami menghadapi masalah yang sangat serius dengan bisnis ilegal yang dilakukan untuk menghasilkan lebih banyak uang," kata Erdogan kepada wartawan di luar rumah sakit.

Erdogan mengatakan pihak berwenang memiliki pelajaran dari insiden itu. "Kami memiliki banyak pelajaran untuk dipelajari dari ini. Kami akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan," katanya, dikutip AP, Minggu (10/2/2019).

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu mengatakan kepada wartawan bahwa korban tewas dari runtuhnya bangunan telah meningkat menjadi 21 orang dan 14 lainnya cedera. Ini adalah ketiga kalinya angka korban insiden itu diperbarui.

"Kami memperkirakan ada 35 orang yang terperangkap di bawah puing-puing," katanya. Dia menekankan bahwa operasi pencarian akan berlanjut seperti sebelumnya. Puluhan penyelamat bekerja di lokasi dengan crane untuk mengangkat balok beton besar guna membersihkan puing-puing.

Media Turki melaporkan, para insinyur dan arsitek secara teratur "membunyikan alarm" terhadap penambahan lantai secara ilegal ke bangunan. Tindakan itu melemahkan struktur konstruksi dan menempatkan bangunan pada risiko yang lebih besar jika terjadi gempa bumi.

Pada tahun lalu, struktur bangunan empat lantai di Istanbul hancur setelah dihantam badai hebat. Pada Januari 2017, insiden serupa juga terjadi dan menewaskan dua orang.
(mas)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak