alexametrics

Iran Pamer Rudal Balistik Baru di Pabrik Bawah Tanah

loading...
Iran Pamer Rudal Balistik Baru di Pabrik Bawah Tanah
Misil balistik Dezful, senjata baru Iran yang diresmikan di pabrik rudal bawah tanah. Foto/Sepah News
A+ A-
TEHERAN - Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran memamerkan rudal balistik baru dengan jangkauan 1.000 kilometer. Misil yang diberi nama Dezful tersebut diproduksi di pabrik rudal bawah tanah.

Pengungkapan senjata baru itu merupakan aksi unjuk kekuatan militer Teheran menjelang puncak peringatan 40 tahun Revolusi Islam 1979. Pamer senjata itu juga dilakukan pada saat ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) sedang memanas.

Dezful, rudal surface-to-surface (permukaan-ke-permukaan) adalah upgrade dari misil Zolfaghar yang memiliki jangkauan 700 kilometer. Hal itu disampaikan komandan dirgantara Brigadir Jenderal Amirali Hajizadeh.



Senjata baru itu diungkapkan setelah Iran pada hari Sabtu lalu mengklaim berhasil menguji coba rudal jelajah baru bernama Hoveizeh dengan jangkauan 1.350 kilometer.

Peresmian misil Dezful dilakukan oleh Komandan Revolusioner Mayor Jenderal Mohammad Ali Jafari dan Hajizadeh di fasilitas produksi rudal balistik bawah tanah.

Lokasi fasilitas tidak ditentukan dan gambar yang diterbitkan oleh media setempat hanya menunjukkan dua komandan di sebuah ruang sedang memeriksa misil.

"Menampilkan fasilitas produksi rudal jauh di bawah tanah ini adalah jawaban bagi orang Barat yang berpikir mereka dapat menghentikan kita untuk mencapai tujuan kita melalui sanksi dan ancaman," kata Jafari, dikutip AFP, Jumat (8/2/2019).

"Orang Eropa berbicara tentang pembatasan kemampuan pertahanan kita, sementara mereka memiliki keberanian (untuk memungkinkan) kekuatan ofensif mereka digunakan untuk menyerang orang tak berdosa di seluruh dunia," ujarnya.

Hajizadeh mengatakan misil baru yang diresmikan ini memiliki kekuatan penghancur dua kali lipat dari misil versi Zolfaghar. Misil Zolfagar digunakan Iran untuk pertama kalinya pada Oktober untuk menyerang pangkalan "jihadis" di Suriah.

Iran telah secara sukarela membatasi jangkauan misilnya hingga 2.000 kilometer, tetapi itu masih cukup untuk menghantam musuh bebuyutannya, Israel, dan pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah.

Teheran mengekang sebagian besar program nuklirnya di bawah kesepakatan tahun 2015 dengan negara-negara besar, tetapi tetap mengembangkan teknologi rudal balistiknya.

Presiden Donald Trump menarik Amerika Serikat keluar dari perjanjian nuklir pada bulan Mei dan menerapkan kembali sanksi terhadap Iran. Program rudal Teheran yang berkembang menjadi salah satu alasan Trump untuk keluar dari perjanjian nuklir Iran.

Amerika Serikat selama ini menuduh rezim Teheran melanggar resolusi PBB dengan terus mengembangkan misil balistik.

Resolusi 2231 Dewan Keamanan PBB—yang diadopsi tepat setelah kesepakatan nuklir 2015—menyerukan Iran untuk tidak melakukan kegiatan apa pun yang berkaitan dengan rudal balistik yang dirancang untuk mampu membawa hulu ledak nuklir.

Teheran menegaskan bahwa program pengembangan misilnya murni defensif dan sesuai dengan resolusi DK PBB.
(mas)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak