alexametrics

Sistem Rudal Rusia di Suriah Tak Bisa Bendung Serangan Jet Israel

loading...
Sistem Rudal Rusia di Suriah Tak Bisa Bendung Serangan Jet Israel
Pesawat jet tempur F-16 Israel. Foto/Major Ofer/Israeli Air Force
A+ A-
TEL AVIV - Rusia telah mengerahkan beberapa sistem pertahanan rudal udara terbaiknya ke Suriah untuk menjaga misil dan jet-jet tempur Amerika Serikat (AS) tetap berada di tempat ketika kekuatan militer besar ramai-ramai melawan ISIS dalam jarak dekat. Namun, sistem pertahanan itu terindikasi tak bisa membendung serangan jet-jet tempur Israel secara rutin.

Pada bulan Februari 2017, sistem pertahanan rudal Suriah, S-200 buatan Rusia, menembak jatuh jet tempur F-16 yang kembali dari serangan besar-besaran dengan menargetkan pasukan Iran di Suriah.

Sebagai tanggapan, Israel meluncurkan serangan lain yang diklaim melenyapkan setengah dari total sistem pertahanan udara Suriah, di mana sistem Moskow yang sudah uzur merupakan mayoritas.



Pada bulan April, Suriah diguncang oleh serangan rudal yang menyulut ledakan dahsyat di sebuah depot amunisi. Ledakan itu setera dengan getaran gempa 2,6 skala richter (SR) dan diyakini telah menewaskan puluhan warga Iran.

Pada bulan Mei, Israel merilis video salah satu misilnya menghancurkan sistem pertahanan udara Rusia. Namun, media Rusia menawarkan alasan mengapa sistem itu gagal menghentikan rudal yang masuk.

Rezim militer Zionis jarang mengonfirmasi serangan udaranya di Suriah dengan tidak mengonfirmasi atau pun menyangkal serangan.

Pada bulan September 2018, serangan Israel lainnya terhadap timbunan senjata Iran di Suriah memicu jatuhnya pesawat pengintai Il-20 Rusia. Pesawat itu tak sengaja ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara S-200 Suriah saat merespons serangan beberapa jet tempur F-16 Israel. Sebanyak 15 tentara Moskow tewas dalam insiden itu.

Rusia saat itu menuduh Israel sengaja terbang di bawah Il-20 untuk membingungkan sistem pertahanan udara Suriah. Akibat insiden itu, Moskow mengirim sistem pertahanan rudal S-300 yang lebih canggih ke militer Suriah.

Moskow sangat menghargai S-300 dan pertahanan misil lainnya, dan telah secara terbuka mengejek AS atas jet-jet tempurnya dengan menyiratkan bahwa senjata-senjata pertahanannya dapat menembak jatuh pesawat-pesawat tempur Washington. Pada saat itu, Rusia mengatakan akan menutup navigasi satelit di wilayah itu dan berharap pertahanan barunya akan mencegah serangan Israel lebih lanjut. Sejauh ini, Rusia keliru.

Entah bagaimana caranya Israel terus menjangkau target-target di Suriah sesuka hati dengan F-16, pesawat tempur generasi keempat yang tidak tersembunyi dari pantauan radar atau bukan jet tempur siluman.

Pada hari Senin, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengakui bahwa angkatan udara negaranya telah melakukan ratusan serangan di Suriah, dengan serangan baru-baru ini mengenai senjata Iran di dekat Bandara Internasional Damaskus.

Rusia awalnya mengerahkan pertahanan udara ke Suriah untuk menjaga negara-negara kuat seperti AS agar tidak menyerang Presiden Suriah Bashar Assad, dan kemudian untuk melindungi pasukan angkatan udaranya sendiri yang ditempatkan di sana.

AS telah lama menentang Assad, karena dia dengan keras menindak para demonstran damai pada tahun 2011 dan telah dituduh melakukan penyiksaan, kejahatan perang, dan menggunakan senjata kimia terhadap warga sipil selama perang saudara 7 tahun yang mengerikan di negara itu.

Tetapi AS telah menyerang Suriah dua kali dengan rudal jelajah, dan Suriah tidak pernah membuktikan sistem rudal Rusia yang digunakan telah mencegat misil-misil jelajah Washington.

Menurut para ahli, ada dua kemungkinan alasan mengapa sistem pertahanan udara buatan Rusia di Suriah tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya. Pertama, Israel pandai mengalahkan sistem pertahanan udara Moskow yang dioperasikan Suriah. Kedua, militer Suriah payah dalam mengalahkan jet Israel.

"Salah satu ciri khas Israel ketika mereka melakukan serangan yang cukup berani dalam cakupan pertahanan udara Suriah adalah perang elektronik yang berat," kata Justin Bronk, seorang pakar tempur udara di Royal United Services Institute (RUSI) kepada Business Insider, yang dikutip Kamis (17/1/2019).

Bronk mengatakan bahwa Israel, sekutu dekat AS yang mengambil bagian dalam pelatihan besar di Amerika, telah mahir merobohkan sistem pertahanan udara Suriah.

Israel melihat pengiriman senjata Iran melalui Suriah sebagai ancaman eksistensial. Meskipun Israel memiliki hubungan yang harus dipertahankan dengan AS dan Rusia—keduanya pemain kunci dalam medan Suriah—Netanyahu menegaskan bahwa Israel tidak akan berhenti untuk mengalahkan Iran.

Dalam lebih dari 100 serangan yang diakui oleh Netanyahu, Israel hanya kehilangan satu pesawat tempur. Bronk mengaitkan hal ini dengan banyak trik yang dikembangkan selama beberapa dekade untuk penindasan pertahanan udara musuh yang dikembangkan oleh Israel.

Pensiunan Korps Marinir AS Letnan Kolonel David Berke, mantan pilot F-35, F-22, dan F-18, mengatakan kepada Business Insider bahwa Israel menemukan cara inovatif, kreatif, dan agresif. "Untuk memaksimalkan kemampuan setiap sistem senjata yang mereka miliki dan pernah digunakan," katanya.
(mas)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak