alexametrics

Mantan Dubes Sebut Washington Kehilangan Peran di Kancah Internasional

loading...
Mantan Dubes Sebut Washington Kehilangan Peran di Kancah Internasional
Mantan dubes AS untuk NATO, Yvo Daalder mengatakan, dalam dua tahun terakhir, AS telah kehilangan statusnya sebagai aktor paling penting di arena internasional. Foto/Istimewa
A+ A-
WASHINGTON - Mantan Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk NATO, Yvo Daalder mengatakan, dalam dua tahun terakhir, Washington telah kehilangan statusnya sebagai aktor paling penting di arena internasional.

Dalam sebuah wawancara dengan CNN, seperti dilansir Tass pada Minggu (13/1), Daalder menyatakan, akan sangat sulit bagi Washington untuk mendapatkan kembali predikat tersebut.

"Pada 2017, AS memiliki kehadiran yang amat besar dalam pikiran para pemimpin global. Penting apa yang dipikirkan, dilakukan, atau tidak dilakukan AS. Tidak jelas apakah pada 2021, para pemimpin dunia akan masih memikirkan apa yang akan dilakukan AS," kata Daalder.



Daalder, dalam wawancara itu mengatakan, keputusan yang dibuat oleh Presiden AS, Donald Trump telah menciptakan kekosongan di arena internasional, dan negara-negara lain, pertama-tama China, siap mengisi kekosongan tersebut.

Daalder juga mengatakan bahwa negaranya kurang memperhatikan untuk terlibat dalam perjanjian perdagangan utama di bawah pemerintahan saat ini, sementara negara-negara lain dengan sangat aktif mengambil bagian dalam perjanjian itu.

Seperti diketahui, sejak Trump dilantik pada 2017, AS telah keluar atau berniat keluar dari serangkaian perjanjian internasional penting dalam bidang politik, ekonomi, lingkungan dan budaya.

Kesepakatan itu termasuk Perjanjian Iklim Paris, Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) tentang program nuklir Iran, Kemitraan Trans-Pasifik. Washington juga mengumumkan pengunduran dirinya dari Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO), memangkas kontribusinya bagi PBB dan mengatakan akan secara sepihak meninjau ketentuan-ketentuan Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA).

Pada Oktober 2018, Trump secara mengejutkan mengatakan, negaranya akan mundur dari Perjanjian Pasukan Nuklir Jangka Menengah (INF) dengan Rusia, dengan alasan Moskow telah melanggar perjanjian itu.
(esn)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak