alexametrics

Mendarat 4 Minggu Lalu, Pesawat Norwegia 'Terjebak' di Iran

loading...
Mendarat 4 Minggu Lalu, Pesawat Norwegia Terjebak di Iran
Pesawat Norwegian Air tidak dapat terbang dari Iran setelah mendarat 4 minggu lalu. Foto/Istimewa
A+ A-
LONDON - Sebuah pesawat asal Norwegia mendarat di Bandara Shiraz, Iran, bulan lalu. Pesawat jenis Boeing 737 itu mendarat akibat kesawalah teknis di wilayah yang belum dipetakan.

Maskapai yang dikenal dengan penerbangan jarak jauh murah dari Eropa ini, tidak memiliki pangkalan di Iran. Maskapai ini juga belum pernah terbang di sana sebelumnya. Dan hampir sebulan setelah meninggalkan Dubai, jet buatan Amerika yang baru dikirim ke Norwegian Air pada bulan Oktober, masih terparkir di Shiraz.

Pesawat itu tampaknya terjebak dalam sanksi Amerika Serikat (AS) terkait program nuklir Teheran yang melarang penjualan pesawat sipil, termasuk layanan dan suku cadang. Hal itu mulai berlaku lagi tahun lalu setelah Presiden Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 yang telah meringankan tindakan hukuman sebagai imbalan atas janji program nuklir damai yang dapat diverifikasi.



Sebuah kesalahan teknis pada salah satu mesin mendorong pendaratan pada 14 Desember, juru bicara Norwegian Air mengatakan melalui telepon pada hari Selasa, dan 186 penumpang dan enam awak pesawat tidak terluka. Mereka menghabiskan malam di Iran dan terbang ke Oslo pada hari berikutnya.

Tetapi hal-hal yang lebih rumit terjadi untuk pesawat. Juru bicara itu mengatakan bahwa Norwegian Air belum pernah berurusan dengan peraturan di Iran, dan bahwa dokumen untuk apa pun dari mendapatkan insinyur hingga suku cadang lebih lama dari biasanya. Dia tidak memberikan perkiraan kapan pesawat akan lepas landas lagi.

Kasus ini menyoroti besarnya sanksi yang dijatuhkan pada penerbangan sipil Iran. Maskapai penerbangan negara ini telah menerbangkan armada pesawat Barat yang sudah menua, beberapa bekas dan dibeli secara sembunyi-sembunyi dari negara ketiga.

Pembatasan ekspor berlaku untuk perusahaan mana pun yang ingin menjual atau menjual kembali barang ke Iran yang mengandung lebih dari 10 persen komponen atau teknologi penerbangan dari AS, kata Anahita Thoms, seorang pengacara yang berspesialisasi dalam masalah perdagangan di Baker McKenzie di Dusseldorf, Jerman.

Pembatasan itu cukup ketat untuk menutupi tidak hanya pabrikan Amerika seperti Boeing, tetapi juga pesawat dari Airbus di Eropa dan Sukhoi di Rusia.

"Tidak ada jalan keluar dari sanksi AS," kata Thoms, mengacu pada masalah Norwegian Air.
halaman ke-1 dari 3
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak