alexametrics

Moskow Sebut Otoritas AS 'Buru' Warga Rusia

loading...
Moskow Sebut Otoritas AS \Buru\ Warga Rusia
Kementerian Luar Negeri Rusia telah mengeluarkan peringatan tentang apa yang digambarkannya sebagai perburuan warga negara Rusia oleh otoritas Amerika Serikat. Foto/Istimewa
A+ A-
MOSKOW - Kementerian Luar Negeri Rusia telah mengeluarkan peringatan tentang apa yang digambarkannya sebagai perburuan warga negara Rusia oleh otoritas Amerika Serikat (AS). Kemlu Rusia mengimbau warga Rusia di AS untuk terus meningkatkan kewaspadaan.

"Setiap warga Rusia harus mengambil setiap tindakan pencegahan ketika bepergian ke luar negeri dan memastikan tidak ada dalam catatan mereka sesuatu yang mungkin menarik pearhatian AS," kata Kemlu Rusia.

Pernyataan Kemlu Rusia ini digaungkan kembali oleh Wakil Menteri Luar Negeri, Sergey Ryabkov, yang menuturkan bahwa otoritas AS sedang melakukan perburuan warga Rusia yang tinggal di sana.



"Pejabat penegak hukum AS melanjutkan perburuan terhadap warga Rusia," kata Ryabkov dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Russia Today pada Minggu (6/1).

Diplomat itu mengatakan, setiap orang Rusia yang memiliki sesatu yang menarik perhatian otoritas AS, harus secara matang memikirkan konsekuensi bepergian ke luar negeri. "Karena pada kenyataannya, tidak ada tempat yang aman, tidak ada jaminan bahwa mereka tidak akan ditangkap," sambungnya.

Pernyataan ini datang setelah Badan Investigasi Federal ASatau FBI dilaporkan telah menangkap seorang warga negara Rusia, Dmitri Makarenko di wilayah Guam pada akhir tahun lalu atas tuduhan mengekspor peralatan militer secara ilegal.

Surat perintah penangkapan, yang dikeluarkan oleh Pengadilan Distrik untuk Distrik Selatan Florida mengatakan Makarenko didakwa pada bulan Juni 2017 atas konspirasi untuk mengekspor artikel pertahanan tanpa lisensi. Dokumen pengadilan diajukan ke Pengadilan Distrik AS untuk Kepulauan Mariana Utara.
(esn)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak