alexametrics

Dunia Internasional Minta Pemerintah Seret OPM ke Meja Hijau

loading...
Dunia Internasional Minta Pemerintah Seret OPM ke Meja Hijau
Sejumlah negara meminta pemerintah melakukan investigasi pembantaian 31 pekerja di Papua oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) Organisasi Papua Merdeka (OPM). Foto/Ilustrasi/SINDONews/Ian
A+ A-
DENPASAR - Aksi pembantaian terhadap 31 pekerja PT Istaka Karya yang tengah membangun jembatan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) ternyata turut menyita perhatian dunia internasional. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengungkapkan dirinya menerima ucapan belasungkawa dari berbagai negara saat melakukan pertemuan bilateral di sela-sela acara Bali Democracy Forum (BDF) ke-11 di Nusa Dua, Bali.

Menurut Retno, mereka meminta pemerintah melakukan investigasi atas kejadian tersebut agar bisa menyeret pelakunya ke meja hijau.

"Mereka mengharapkan agar investigasi secara seksama dapat segera dilakukan untuk membawa para pelaku mempertanggungjawabkan perbuatan mereka sesuai dengan hukum yang berlaku," ujar Retno, Denpasar, Kamis (6/12/2018).

Retno pun mengecam keras tindakan tersebut karena aksi tersebut tidak dapat diterima. "Apalagi menyasar kepada innocent citizen," ucap Retno.

Sebanyak 31 pekerja PT Istaka Karya dibantai oleh kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka di Kabupaten Nduga, Papua. Mereka dibantai setelah salah satu pekerja diduga memfoto kegiatan hari ulang tahun (HUT) OPM pada hari Sabtu 1 Desember 2018 lalu.

Belakangan, kelompok OPM pimpinan Egianus Kaguya mengaku bertanggungjawab atas serangan tersebut. Juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), Sebby Sambom membenarkan bahwa kelompoknya, sayap militer Organisasi Papua Merdeka (OPM), bertanggung jawab atas pembunuhan pekerja proyek di Nduga, Papua. Menurutnya, penyerangan itu dilakukan dengan alasan untuk menuntut kemerdekaan Papua Barat.
(ian)
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak