alexametrics

Mengintip Sekularisme di Turki dari Ataturk hingga Erdogan

loading...
Mengintip Sekularisme di Turki dari Ataturk hingga Erdogan
Ilustrasi Turki. Foto/BBC
A+ A-
ANKARA - Ketika Mustafa Kemal Ataturk mendirikan Republik Turki hampir seabad yang lalu, mantan pemimpin militer itu menyingkirkan agama dari ruang publik dan melihat Barat sebagai kiblat untuk mendapatkan inspirasi.

Setelah mengganti hukum Islam (syariah) dengan peraturan sipil Eropa, Ataturk memasang prinsip-prinsip sekularisme ke dalam konstitusi. Penerapan nyata dari prinsip-prinsip itu antara lain melarang azan kaum Muslim dalam bahasa Arab dan mendorong integrasi sosial dari jenis kelamin, reformasi yang secara radikal untuk mengubah tatanan Muslim.

Sekularisme yang dirintis Bapak Turki Modern itu seperti menjadi "kejutan" bagi Turki. Sebab, negara itu sebelumnya adalah tempat berkuasanya Kekaisaran Ottoman (Utsmaniyah) yang sangat Islami.

Setelah hampir seabad, identitas sekularisme di negara itu tidak jelas. Presiden Recep Tayyip Erdogan yang sudah berkuasa lebih dari 16 tahun menyatakan sistem Turki tetap sekularisme. Namun, faktanya, dia mendorong tumbuhnya sekolah-sekolah agama dan di pemerintahannya nyata-nyata ada lembaga agama bernama Diyanet yang "ikut campur" masalah keagamaan publik.

Sampai saat ini model demokrasi Turki masih jadi perdebatan publik, apakah menganut demokrasi model dunia Islam dan meninggalkan model sekulernya atau tetap pada model sekuler yang dirintis Ataturk secara murni.

Selam balasan tahun, Erdogan dan partainya; Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP)-nya telah mendominasi politik negara itu, menjadikan negara yang secara konstitusional sekuler menjadi lebih religius dan konservatif.

Erdogan dan AKP-nya telah mencoba menafsirkan kembali sekularisme. Sebagai contoh, Erdogan dan partainya menolak untuk melanjutkan larangan ketat terhadap agama dari semua domain publik dan pembatasannya untuk kehidupan pribadi.

Terlebih lagi, Erdogan telah berulang kali mengatakan bahwa "hanya negara yang dapat menjadi sekuler, bukan individu".

Pada awal 2012, Erdogan pernah memicu kehebohan ketika dia mengatakan ingin melihat "generasi yang saleh". Selanjutnya, parlemen menyetujui undang-undang yang memungkinkan sekolah-sekolah agama, yang dikenal sebagai hatips imam, untuk mengambil siswa berusia 11 tahun.

Ketika menjelang pemilu Juni lalu, kelompok-kelompok oposisi menggambarkan Erdogan sebagai "Caliph-in-waiting" yang mencari kekuatan besar untuk mengubah undang-undang negara itu untuk lebih mencerminkan identitas Muslim-nya yang sedang tumbuh.

"Ada paradoks besar dalam kepemimpinan AKP," kata Baris Yarkadas, seorang anggota parlemen Partai Rakyat Republik (CHP), sebuah partai kiri dan sekuler.

"Satu sisi, Partai AK mengklaim sebagai sekuler. Di sisi lain, mereka tidak setuju dengan beberapa pandangan Mustafa Kemal Ataturk dan ingin meruntuhkan republik," ujarnya.

Tidak terbebani oleh agama, Ataturk mempromosikan tradisi dan budaya Turki kuno sebagai bagian dari serangkaian reformasi dengan maksud bahwa nasionalisme akan mengatasi ide dari umat Islam, atau komunitas Muslim global.

Membangun negara di sekitar kader elite sekuler, ide-idenya—yang dikenal sebagai Kemalisme—menyalahkan runtuhnya Kekaisaran Ottoman tentang agama dan mengubah hampir setiap aspek kehidupan Turki selama delapan dekade ke depan.

Politisi AKP, Fatma Benli, mengkritik sekularisme yang salah kaprah. "Sekularisme dipaksakan pada orang-orang seolah-olah itu adalah agama," kata Benli, anggota parlemen yang berbasis di Istanbul.
halaman ke-1 dari 3
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak