alexametrics

Pejabat AS: Depak Turki dari Program F-35, Dampaknya Tak Merusak

loading...
Pejabat AS: Depak Turki dari Program F-35, Dampaknya Tak Merusak
Sebuah jet tempur siluman F-35 melakukan penerbangan di sekitar Pangkalan Udara Luke, Arizona, Amerika Serikat. Foto/US Air Force/Airman 1st Class Jacob Wongwai
A+ A-
WASHINGTON - Seorang pejabat senior Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) mengatakan keputusan untuk mengeluarkan Turki dari program jet tempur siluman F-35 hanya berdampak kecil dan tidak merusak industri jet tempur canggih itu. Washington ingin mendepak Ankara dari program itu karena nekat membeli sistem rudal S-400 Rusia.

Presiden Donald Trump belum menentukan langkah apa yang akan diambil Departemen Pertahanan jika Turki tidak membatalkan kesepakatan pembelian senjata pertahanan Moskow tersebut.

Namun, Heidi Grant, Deputi Urusan Internasional di Angkatan Udara AS, mengatakan analisis Pentagon menunjukkan bahwa tidak akan ada bencana jika Turki dipaksa keluar dari program tersebut.

"Meskipun akan berdampak pada program F-35, saya tidak berpikir itu akan menjadi jenis dampak yang merusak jika ada keputusan kebijakan bahwa mereka tidak lagi menjadi mitra," kata Grant, seperti dikutip Defense News, Rabu (5/12/2018).

Pada 7 Januari mendatang Grant akan mengambil alih posisi sebagai Kepala Administrasi Keamanan Teknologi Pertahanan (DTSA), lembaga utama Departemen Pertahanan untuk memastikan bahwa penjualan sistem senjata ke negara-negara asing tidak akan membahayakan keuntungan teknologi AS.

Sebagai direktur DTSA, Grant berharap akan memainkan peran yang lebih aktif pada pertanyaan apakah akan mengekspor F-35 ke Turki atau tidak.

Beberapa anggota parlemen khawatir jika Ankara bergerak maju dengan pembelian S-400 Rusia akan "membuka pintu" bagi sistem anti-pesawat itu untuk mengumpulkan informasi rahasia tentang kemampuan militer NATO, termasuk jet tempur F-35.

Dalam RUU kebijakan pertahanan terbaru, Kongres memasukkan klausul yang melarang Turki mengambil jet tempur F-35 yang dipesan sampai Pentagon menyampaikan peran Turki dalam program dan potensi risiko yang ditimbulkan dari pembelian S-400 Rusia oleh Turki.

Ringkasan laporan Pentagon yang tidak diklasifikasikan telah diperoleh minggu lalu oleh Bloomberg. Ringkasan laporan itu menyatakan kembali bahwa Turki mungkin menghadapi pengusiran dari program F-35 jika kesepakatan pembelian S-400 Moskow tidak dibatalkan.

Turki telah sepakat membeli 100 unit jet tempur siluman F-35 Lockheed Martin AS. Dua unit pesawat itu secara simbol sudah diserahkan, namun masih berada di Pangkalan Udara Luke, Arizona untuk latihan pilot Ankara.

Perusahaan-perusahaan Turki memainkan peran kunci industri dalam program F-35. Di antaranya sebagai salah satu produsen tampilan kokpit.

Grant mengatakan dia tidak tahu berapa lama waktu yang diperlukan untuk mengganti kontribusi Turki pada program F-35 atau solusi apa yang ditawarkan pemerintahan Trump kepada negara Erdogan tersebut.

Tapi, dia khawatir sudah terlambat pada titik ini untuk membujuk pemerintah Turki agar membatalkan kesepakatan pembelian S-400 Rusia.

“Itulah yang terjadi pada titik ini. Jika mereka sudah memutuskan, mereka adalah negara yang berdaulat untuk membeli sistem dari negara lain, kita harus menyelesaikan masalah kebijakan tersebut," katanya.

"Tapi apa yang ingin saya lakukan ketika saya sampai di sana (untuk DTSA) adalah (mencari tahu) bagaimana kita menghindari bahkan sampai ke titik itu dan memastikan bahwa AS adalah mitra pilihan."

"Apakah kita cukup berhasil di depan untuk mencoba mencegahnya? Saya tahu banyak pekerjaan yang dilakukan, tapi kupikir ada banyak pembelajaran dari ini tentang risiko tidak menjadi mitra pilihan," imbuh dia.
(mas)
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak