alexametrics

Eks Menteri Pertahanan Israel: Kami Memberi Makan Monster

loading...
Eks Menteri Pertahanan Israel: Kami Memberi Makan Monster
Mantan Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman menyebut Hamas akan mempunyai kemampuan yang sama dengan Hizbullah di masa depan. Foto/Istimewa
A+ A-
TEL AVIV - Mantan Menteri Pertahanan Israel mengecam kabinet keamanan karena menyerah kepada Hamas. Ia juga menyalahkan politis karena memberi makan "monster" yang akan segera menyamai kekuatan Hizbullah Lebanon.

Avigdor Lieberman dalam pidato resmi terakhirnya menuduh kabinet keamanan Israel secara efektif memberika kekebalan kepada Hamas dengan menerima syarat-syarat perjanjian gencatan senjata yang ditengahi Mesir, yang menghentikan permusuhan mendidih di Jalur Gaza pekan ini. Ia mengecam apa yang disebutnya sebagai keringanan yang ditunjukkan oleh kepemimpinan Israel saat ini kepada Hamas.

"Kami saat ini sedang memberi makan monster, yang jika kami tidak menghentikan persenjataan dan pembangunan kembalib kekuatannya, dalam setahun kami akan mendapatkan kembaran Hizbullah dengan semua yang diperlukan," ujarnya seperti disitir dari Russia Today, Sabtu (17/11/2018).

Setelah tur perpisahannya bersama komandan dan tentara IDF, kepala tentara Israel yang mengundurkan diri itu menegaskan keyakinannya bahwa IDF seharusnya dari awal bersikap tegas saat berurusan dengan Hamas, tepat setelah aksi protes the Great March of Return meletus di Perbatasan Gaza.

Lieberman kemudian menyalahkan politisi Israel karena "menyerah pada teror". Hawkish Israel ini juga mengecam keputusan Tel Aviv yang baru-baru ini untuk meringankan blokade Gaza. Israel mengizinkan suntikan dana tunai USD90 juta dari Qatar ke dalam daerah kantong itu dengan harga, menurut Lieberman, kerusakan jangka panjang terhadap keamanan Israel.

Lieberman menyerahkan surat pengunduran dirinya pada hari Kamis, sehari setelah mengumumkan ketidaksetujuannya atas kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi Kairo yang mengakhiri dua hari permusuhan antara IDF dan militan Palestina.

Krisis, digambarkan sebagai yang paling kuat sejak perang Gaza 2014, dimulai dengan serangan rahasia Israel ke Gaza pada hari Minggu. Dalam apa yang mereka sebut 'pembalasan', Hamas dan Gerakan Jihad Islam di Palestina meluncurkan lebih dari 400 roket dan proyektil ke Israel selatan pada hari Senin dan Selasa. Israel membalas dengan menyerang lebih dari 150 target 'teroris' di dalam kantong itu.

Tidak puas dengan hasil serangan Israel terhadap perbatasan, Lieberman menjadi pendukung utama serangan besar-besaran ke Gaza untuk secara efektif menghapus kemampuan Hamas untuk menyerang Israel. Ketika tank dan kontingen pasukan tambahan dikirim ke perbatasan, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menerima syarat-syarat kesepakatan gencatan senjata, yang memicu kekecewaan pahit menteri pertahanan. Lieberman dilaporkan salah satu dari empat menteri yang menentang kesepakatan itu.

Dengan pengunduran diri Lieberman, pemimpin Hamas Yahya Sinwar menyarankan Israel untuk tidak mencoba dan menguji Hamas lagi, dan memperingatkan terhadap setiap upaya pembunuhan atau serangan terhadap Gaza di masa depan.

“Siapa pun yang menguji Gaza akan menemukan kematian dan keracunan. Jika kami diserang, kami akan membiarkan serangan di Tel Aviv yang berbicara,” kata Sinwar.

"Misil kami lebih akurat, memiliki jangkauan yang lebih jauh dan membawa lebih banyak bahan peledak daripada sebelumnya," imbuhnya.
(ian)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak