alexametrics

Mantan PM Australia: Mundur dari Perjanjian Adalah Tren yang Buruk

loading...
Mantan PM Australia: Mundur dari Perjanjian Adalah Tren yang Buruk
Mantan Perdana Menteri Australia, Kevin Rudd menyatakan, tren sebuah negara mundur dari perjanjian multilateral atau internasional adalah sebuah tren yang sangat buruk. Foto/Victor Maulana/Sindonews
A+ A-
JAKARTA - Mantan Perdana Menteri Australia, Kevin Rudd menyatakan, tren sebuah negara mundur dari perjanjian multilateral atau internasional adalah sebuah tren yang sangat buruk. Menurutnya, tren ini pada akhirnya bisa menghapus semua perjanjian multilateral yang ada.

"Saya pikir jika semua pihak memecah perjanjian multilateral, dengan menarik diri dari kesepakatan itu, apa yang terjadi, satu negara melakukannya (keluar dari perjanjian) dan negara lain mengikutinya. Pada akhirnya kita tidak akan memiliki kerjasama multilateral," ucap Rudd pada Kamis (8/11).

"Perjanjian multilateral butuh waktu lama untuk dibentuk, kita memulai sistem ini pada tahun 1945, dengan 50 negara. Saat ini ada 192 negara, kebanyakan dari mereka adalah anggota dari badan internasional," sambungnya.

Dia lalu menyatakan, tidak ada satupun perjanjian multilateral yang sempurna. Namun, lanjut Rudd, semua pihak harusnya berusaha untuk mengembangkan pernjaian itu dan membuat menjadi sedikit lebih sempurna, dibanding mengeluh dan keluar dari perjanjian itu.

"Saya memiliki pandangan bahwa perjanjian itu tidak ada yang sempurna, tapi harusnya kita mengembangkan kerjasama itu, daripada mengatakan bahwa itu tidak sempurna dan kita sebaiknya keluar dari itu. Saya kira semua orang harus mempertahankan (kerjasama) itu," tukasnya.

Seperti diketahui, Amerika Serikat (AS) menjadi negara yang rajin keluar dari perjanjian multilateral saat ini. Perjanjian nuklir Iran dan perjanjian senjata nuklir dengan Rusia adalah sejumlah kerjasama yang ditinggalkan AS dalam kurun waktu setahun terakhir.
(esn)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak