alexametrics

Iran Sebut Eropa Ciut Nyali untuk Menentang AS

loading...
Iran Sebut Eropa Ciut Nyali untuk Menentang AS
Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menilai Eropa belum berani mengambil risiko untuk menentang sanksi AS. Foto/Istimewa
A+ A-
TEHERAN - Eropa belum menunjukkan bahwa pihaknya bersedia "membayar harga" untuk menentang Washington guna menyelamatkan kesepakatan nuklir internasional. Begitu yang dikatakan Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif.

Zarif mengatakan pemerintah Eropa telah mengajukan proposal untuk mempertahankan hubungan perdagangan minyak dan perbankan dengan Iran setelah fase kedua sanksi AS pada November.

Namun menurutnya tindakan ini tidak lebih dari sebuah pernyataan posisi mereka daripada tindakan praktis.

"Meskipun mereka telah bergerak maju, kami percaya bahwa Eropa belum siap untuk membayar harga (untuk benar-benar menentang AS)," kata Zarif seperti dikutip dari AFP, Minggu (19/8/2018).

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 pada bulan Mei lalu, dan mulai memberlakukan kembali sanksi awal bulan ini yang menghalangi negara lain untuk berdagang dengan Iran.

Fase kedua sanksi yang menargetkan industri minyak Iran yang penting dan hubungan perbankan akan kembali dijatuhkan pada 5 November mendatang.

Eropa telah berjanji untuk terus memberikan Iran manfaat ekonomi yang diterimanya dari kesepakatan nuklir, tetapi banyak perusahaan besar telah ditarik keluar dari negara itu karena takut hukuman AS.

"Iran dapat menanggapi kehendak politik Eropa ketika disertai dengan langkah-langkah praktis," kata Zarif.

"Orang Eropa mengatakan JCPOA (kesepakatan nuklir) adalah pencapaian keamanan bagi mereka. Secara alami setiap negara harus berinvestasi dan membayar harga untuk keamanannya. Kita harus melihat mereka membayar harga ini dalam beberapa bulan mendatang," tukasnya.
(ian)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak