alexametrics

Kim Jong-un: Proposal Sanksi AS ke DK PBB Perampokan dan Biadab

loading...
Kim Jong-un: Proposal Sanksi AS ke DK PBB Perampokan dan Biadab
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un (kiri) saat bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Singapura, 12 Juni 2018. Foto/REUTERS/Susan Walsh
A+ A-
SEOUL - Amerika Serikat (AS) mengajukan proposal ke Dewan Keamanan (DK) PBB untuk menjatuhkan sanksi internasional terbaru terhadap Pyongyang. Tindakan Washington itu membuat pemimpin Korea Utara (Korut), Kim Jong-un, marah.

Proposal AS untuk sanksi internasional terbaru itu diklaim bertujuan untuk merealisasikan denuklirisasi Korea Utara secara lengkap dan diverifikasi. Namun, pemimpin rezim Pyongyang menyebut apa yang dilakukan Washington itu sebagai "perampokan" dan tindakan "biadab".

Menurut kantor berita negara Korut, KCNA, Jumat (17/8/2018), Kim Jong-un berjanji bahwa rakyat Korea Utara akan bersatu melawan apa yang dia sebut sebagai "pasukan musuh".

"Kampanye yang lebih besar dari kehidupan untuk membangun distrik wisata tepi pantai di Wonsan mencerminkan perjuangan kami melawan pasukan musuh yang mencoba mencekik orang-orang kami dengan sanksi dan blokade yang biadab," kata Kim Jong-un.



"Kami terlibat dalam pertarungan fana dalam membela partai kami dan untuk membangun kehidupan yang bahagia bagi orang-orang kami," lanjut pemimpin muda Pyongyang itu saat berkunjung ke kawasan wisata Wonsan-Kalma.

Pemerintah Korea Utara telah mengkritik Washington atas tuntutan perlucutan senjata nuklir secara lengkap, dapat diverifikasi dan tidak dapat diubah. Korut menilai AS bertindak ala "gangster" dalam menuntut Pyongyang.

AS telah mendesak masyarakat internasional untuk mempertahankan sanksi keras terhadap rezim yang terisolasi itu. Departemen Keuangan AS pekan ini mengumumkan langkah-langkah penjatuhan sanksi terhadap perusahaan Rusia dan China atas tuduhan pelanggaran sanksi AS terhadap Korut.
(mas)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak