alexametrics

Erdogan: AS Punya Dolar, Turki Punya Tuhan

loading...
Erdogan: AS Punya Dolar, Turki Punya Tuhan
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mencoba meredam kekhawatiran warganya setelah mata uang lira jatuh terhadap dolar AS. Foto/Sky News
A+ A-
ANKARA - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mencoba meredam kekhawatiran rakyatnya setelah kurs mata uang lira jatuh terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Dia minta warga tak khawatir dan percaya pada Tuhan.

Pada Jumat (10/8/2018), mata uang Turki jatuh sekitar tujuh persen terhadap dolar AS. Anjloknya nilai lira seiring dengan penjatuhan sanksi Washington terhadap Ankara.

Seperti diketahui, pemerintah Presiden Donald Trump menjatuhkan sanksi kepada para pejabat Turki setelah pemerintah Erdogan menolak membebaskan pastor AS Andrew Brunson. Pastor itu ditahan di Ankara atas tuduhan terlibat jaringan terorisme dan mendukung upaya kudeta militer yang gagal pada tahun 2016 lalu.

Komentar Presiden Erdogan disampaikan saat berbicara di depan para pendukungnya di Kota Rice, pantai Laut Hitam, pada Kamis malam.



"Ada berbagai kampanye yang sedang dilakukan. Jangan pedulikan mereka," kata Erdogan mengacu pada AS.

"Jangan lupa, jika mereka memiliki uang mereka (dolar), kita memiliki orang-orang kita, memiliki Tuhan kita. Kami bekerja keras. Lihatlah apa yang kami (kerjakan) 16 tahun lalu dan lihat kami sekarang," ujar Erdogan, seperti dikutip Sky News.

Kekhawatiran yang lebih luas tentang kekuasaan Presiden Erdogan, terutama atas kebijakan moneter, telah berkontribusi atas anjloknya nilai lira Turki.

Inflasi di Turki mencapai hampir 16 persen, tetapi bank sentral setempat enggan bertindak,  terutama dengan presiden Erdogan yang menggambarkan dirinya sebagai "musuh suku bunga".

Pekan lalu, Erdogan mendesak warga Turki untuk nenukarkan emas dan mata uang asing dengan lira. Menurutnya, langkah itu akan ntuk meningkatkan nilainya.
(mas)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak