alexametrics

Pemilu Turki, Pertaruhan bagi Erdogan yang 16 Tahun Berkuasa

loading...
Pemilu Turki, Pertaruhan bagi Erdogan yang 16 Tahun Berkuasa
Para pendukung Erdogan menghadiri kampanye terakhir di Istanbul, Jumat (22/6/2018), sebelum pemilu Turki digelar Minggu besok. Foto/REUTERS/Alkis Konstantinidis
A+ A-
ANKARA - Turki akan menggelar pemilu parlemen dan presiden pada Minggu (24/6/2018) besok. Pemilu kali ini akan menjadi pertaruhan bagi Presiden Recep Tayyip Erdogan dan partainya; Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang sudah berkuasa selama 16 tahun terakhir.

AKP sudah menang 12 kali pemilu Turki yang menjadikan Erdogan sebagai pemimpin paling lama di Republik Turki sejak negara itu didirikan pada tahun 1923.

Ada lima calon presiden yang menantang Erdogan dalam pemilu besok. Mereka adalah Muharrem Ince dari Partai Rakyat Republik (CHP), yang merupakan rival terkuat Erdogan saat ini. Selanjutnya, Meral Aksener; capres perempuan dari Good Party (IP), Selahattin Demirtas; capres dari Partai Rakyat Rakyat (HDP), Temel Karamollaoglu; capres dari Partai Felicity dan Dogu Perincek; capres dari Partai Patriotik.

Pemenang pemilu presiden akan memperoleh kekuatan eksekutif baru di bawah konstitusi yang diadopsi dalam referendum tahun lalu.

Dalam berbagai survei, Erdogan masih unggul meski Ince menjadi lawan terberatnya. Meski diprediksi unggul, Erdogan diyakini tidak bisa menang dalam satu putaran mengingat banyaknya capres yang bertarung. Erdogan dan Ince diprediksi akan bertarung dalam dua putaran.

Muharrem Ince muncul sebagai politisi yang bersinar karena sukes merebut simpati kubu oposisi. Mantan guru fisika dari Turki barat laut ini anggota parlemen dari CHP, partai sekuler.

Tidak seperti banyak politisi CHP pada umumnya, Ince berasal dari keluarga Muslim Sunni yang saleh.

Dalam sebuah kunjungan di sebuah pedesaan beberapa waktu lalu, dia memikat banyak petani dengan membawa kakaknya yang mengenakan jilbab. Dia disambut tarian rakyat dan diajak mengenderai traktor mengelilingi kawasan pedesaan.

Tak mudah bagi Ince untuk mengalahkan Erdogan, karena partainya, AKP, memiliki basis Islam yang sudah mengakar di Turki.

Dalam berbagai kampanye, Ince kerap meledek Erdogan. Dia menyebut Erdogan sebagai "Tarzan" karena catatan akademis Erdogan yang dia anggap buruk.

Sepuluh tahun lebih muda dari presiden Erdogan, Ince telah menyalakan kerumunan orang banyak dengan orasi yang meledak-ledak.

"Dalam beberapa hari ini, karena Tarzan telah menghadapi masalah, dia telah bertele-tele," kata Ince kepada banyak pendukungnya pada hari Kamis. "Kami tahu dia tidak memiliki ijazah universitas, tetapi saya bertanya-tanya apakah dia bahkan memiliki (ijazah) sekolah menengah," ujarnya, yang dikutip Reuters, Sabtu (23/6/2018).

Ledekan Ince sangat berani, mengingat hukum di Turki menyatakan bahwa menghina presiden merupakan adalah kejahatan. Setidaknya sudah sekitar 1.800 orang digugat atas tuduhan menghina Presiden Erdogan.

Tak mau kalah, Erdogan menuduh Ince berpihak pada teroris karena mengunjungi Selahattin Demirtas, capres dari HDP yang pro-Kurdi. Pemerintah Erdogan menuduh HDP terkait dengan kelompok militan Kurdistan (PKK) yang dilarang oleh Ankara.
(mas)
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak