alexametrics

AS Sebut Sistem Pertahanan Suriah Gagal Rontokkan 105 Rudal, Ini Sebabnya

loading...
AS Sebut Sistem Pertahanan Suriah Gagal Rontokkan 105 Rudal, Ini Sebabnya
Tentara Suriah tembakkan rudal pencegat untuk menghalau serangan rudal Amerika Serikat di Damaskus, Sabtu (14/4/2018). Foto/Twittter @arturaskerelis
A+ A-
WASHINGTON - Pentagon dan analis militer menyatakan sistem pertahanan udara Suriah gagal merontokkan sekitar 105 rudal yang ditembakkan Amerika Serikat (AS), Inggris dan Prancis, pekan lalu. Kurangnya pelatihan pasukan Presiden Bashar al-Assad terhadap sistem pertahanan udara menjadi salah satu penyebab kegagalan tersebut.

Suriah mengaku menembakkan 40 rudal pencegat dari sistem pertahanan udara buatan Soviet. Namun, Pentagon menegaskan bahwa puluhan rudal pecegat itu tidak ada yang menjatuhkan rudal-rudal AS dan sekutunya sampai akhirnya menghantam target di darat.

"Hampir setiap yang diluncurkan setelah rudal terakhir kami mencapai targetnya," kata juru bicara Pentagon, Dana White.

Christopher Kozak, seorang analis di Institute for The Study of War mengatakan, kegagalan tersebut menyoroti betapa tidak efektifnya militer Suriah dan sejauh mana sekarang bergantung pada Rusia dan Iran, sebagai sponsor utama untuk menjamin keamanannya.

Baca: Pentagon Anggap S-400 Rusia Payah saat Suriah Dihujani Rudal

Militer AS, Prancis dan Inggris meluncurkan sekitar 105 rudal dari pesawat dan kapal perang terhadap tiga fasilitas senjata kimia di Suriah akhir pekan lalu. Agresi singkat ini sebagai tanggapan terhadap dugaan serangan senjata kimia yang dituduhkan dilakukan pasukan Assad di Douma pada 7 April 2018.

Rusia mengklaim bahwa sistem pertahanan Suriah merontokkan banyak rudal jelajah musuh yang masuk. Menurut Moskow, lebih dari 70 rudal AS dan sekutunya ditembak jatuh.

Tapi, Pentagon menolak klaim Rusia tersebut sebagai kampanye disinformasi.

Menurut para analis militer, Suriah memang dilengkapi dengan sistem pertahanan udara yang relatif canggih. Hanya saja, kurangnya pelatihan, komando dan kontrol dan faktor manusia lainnya kemungkinan bertanggung jawab atas kegagalan tersebut.

"Ini bukan hanya tentang kemampuan fisik dari sistem pertahanan udara," kata David Deptula, seorang pensiunan jenderal bintang tiga Angkatan Udara AS, seperti dikutip USA Today, Minggu (22/4/2018). "Ini tentang orang-orang yang mengoperasikan sistem."

Sistem pertahanan udara yang dioperasikan pasukan Suriah salah satunya S-200 buatan Uni Soviet tahun 1960-an.
(mas)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak