alexametrics

China Pamer Rudal Nuklir 'Guam Killer' yang Bisa Hantam Wilayah AS

loading...
China Pamer Rudal Nuklir Guam Killer yang Bisa Hantam Wilayah AS
Rudal baru China berhulu ledak nuklir yang dipamerkan dalam parade militer. Media-media Barat menjulukinya sebagai misil 'Guam Killer'. Foto/CCTV13
A+ A-
BEIJING - China, dalam sebuah parade militer akbar, memamerkan sebuah peluru kendali (rudal) berhulu ledak nuklir baru yang diklaim mampu menghantam wilayah Amerika Serikat (AS). Misil baru ini dijuluki media-media Barat dengan sebutan "Guam Killer".

Julukan itu mengacu pada pangkalan militer rahasia AS di Guam, Samudra Pasisik, yang berpotensi jadi target militer Beijing jika konflik dengan Washington pecah.



Misil "Guam Killer" dilaporkan mampu menembak target sejauh sekitar 2.000 mil dan mampu menghancurkan kapal induk raksasa. Senjata baru Beijing ini akan menjadi ancaman bagi Guam, wilayah yang jadi rumah bagi sekitar 162.000 orang Mikronesia.

Pemerintah China tidak mengonfirmasi model rudal yang dipamerkannya tersebut. Namun, media setempat melaporkan bahwa senjata itu adalah rudal DF-26 yang dapat melakukan perjalanan dengan kecepatan supersonik.

Menurut CCTV, lembaga penyiaran negara China, rudal itu telah dirancang, dikembangkan dan dibangun oleh para insinyur China dan ditugaskan untuk Angkatan Roket Tentara Pembebasan Rakyat.

"Sistem senjata brigade rudal yang dibangun oleh sistem reorganisasi dan peralatannya adalah generasi baru rudal balistik jarak menengah dan jarak jauh yang dikembangkan oleh China dan dengan hak kekayaan intelektual independen yang lengkap," bunyi laporan CCTV.

"Ini adalah jenis senjata baru dalam jurus strategis dan sistem kekuatan serangan militer kita dan merupakan 'pembunuh' bagi pasukan tempur. Tulang punggung senjata," lanjut laporan media pemerintah Beijing tersebut yang dikutip semalam (17/4/2018).
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak