alexametrics

Penyitaan Tak Sah, Polisi RI Harus Lepaskan Yacht Mewah Buruan FBI

loading...
Penyitaan Tak Sah, Polisi RI Harus Lepaskan Yacht Mewah Buruan FBI
Kapal pesiar atau yacht mewah milik Equanimity Cayman Ltd, perusahaan di Malaysia. Kapal yang diburu FBI ini disita polisi Indonesia beberapa waktu lalu. Foto/Foto/SINDOnews/Kis Kertasari
A+ A-
JAKARTA - Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Selasa, 17 April 2018, memutuskan bahwa penyitaan sebuah kapal pesiar (yacht) mewah milik pebisnis Malaysia oleh polisi Indonesia cacat hukum. Dengan putusan ini, polisi Indonesia harus melepaskannya.

Kapal pesiar milik Equanimity Cayman Ltd merupakan buruan Federal Bureau of Investigation (FBI) yang menyelidiki praktik pencucian uang di Amerika Serikat terkait skandal korupsi di lembaga keuangan 1Malaysia Development Berhad (1MDB). Kapal pesiar itu sebelumnya diduga dibeli sebagai trik pencucian uang dari skandal korupsi.



"Kami menyatakan penyitaan oleh polisi sebagai tidak sah dan secara hukum tidak berdasar," kata Hakim Ratmoho pada sidang pra peradilan.

Pada tanggal 28 Februari lalu, polisi Indonesia di Bali menyita kapal pesiar Equanimity sepanjang 92 meter di lepas pantai Bali sebagai bagian dari operasi gabungan dengan FBI AS.

Ratmoho mengatakan bahwa penyitaan seharusnya dilakukan di bawah kerangka bantuan hukum timbal balik sebagaimana ditentukan oleh undang-undang 2006, yang memberikan mandat kepada kementerian hukum dan hak asasi manusia, dan bukan oleh polisi.

Departemen Kehakiman AS sebelumnya menduga bahwa kapal pesiar Equanimity senilai USD 250 juta merupakan salah satu aset yang dibeli oleh bankir Malaysia Low Taek Jho, juga dikenal sebagai Jho Low, dengan menggunakan dana yang dikorupsi dari 1MDB.

Dana itu diduga dicuci di beberapa negara termasuk AS. Departemen Kehakiman AS mengajukan gugatan perdata pada Juni 2017 dalam upaya untuk memulihkan aset tersebut.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak