alexametrics

Pemerintah Malaysia Pasang Iklan Tahun Anjing tapi Gambar Ayam

loading...
Pemerintah Malaysia Pasang Iklan Tahun Anjing tapi Gambar Ayam
Pemerintah Malaysia diledek publik setelah pasang iklan di koran soal ucapan selamat Tahun Anjing tapi bergambar ayam. Foto/Twitter @fmtoday
A+ A-
KUALA LUMPUR - Pemerintah Malaysia terpaksa meminta maaf kepada publik setelah memasang iklan ucapan selamat Tahun Baru Imlek di sebuah surat kabar. Musababnya, gambar dalam iklan bukan anjing sebagai simbol tahun ini, melainkan ayam jantan.

Banyak warga yang menafsirkan iklan tersebut sebagai upaya pemerintah untuk tidak menyinggung perasaan umat Islam yang merupakan mayoritas di negara tersebut.

Iklan satu halaman penuh itu muncul di surat kabar berbahasa Mandarin dan dibayar oleh Kementerian Perdagangan. Iklan itu berisi harapan pada orang-orang di tahun anjing yang sejahtera, tapi gambar menunjukkan seekor ayam jantan yang menggonggong layaknya anjing.

Ledekan dari publik bermunculan di media sosial. Mereka menganggap perasaan pemerintah sedang campur aduk. Banyak pengkritik lain menganggap itu merupakan usaha ceroboh untuk menghindari penggunaan gambar seekor anjing karena hewan itu dianggap najis dalam Islam.

Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, Reuters melaporkan bahwa para pelaku bisnis Malaysia meremehkan simbol anjing agar tidak membuat komunitas Muslim marah. Islam merupakan agama resmi Malaysia, namun sekitar 20 persen penduduk di negara itu beragama Budha dan 10 persen lainnya beragama Kristen.

“Tidak yakin apakah saya ingin tertawa atau menangis melihat iklan CNY oleh @KPDNKK yang menggambarkan seekor ayam jantan menggonggong. Sungguh menyedihkan bagaimana orang berpikir bahwa melihat anjing tercetak akan menghancurkan iman Anda,” kata warga bernama Chee Ching di media sosial dengan nama akun @cheeChingy.

 

Sebuah artikel di Free Malaysia Today mengatakan;”Hanya di Malaysia yang membuat absurditas seperti seekor ayam jantan China yang menggonggong”.

”Manajer kami kurang terlatih, mungkin memberikan instruksi yang buruk, gagal menerima tanggung jawab, dan menolak pertanggungjawaban,” tulis seorang kolumnis, Mariam Mokhtar, yang dikutip Senin (19/2/2018).

Kementerian Perdagangan menyalahkan iklan itu karena “kesalahan teknis”.

”Kami sangat menyesalkan ketidaknyamanan,” kata juru bicara kementerian tersebut, Luqman Hakim Abd Malik. Namun, dia tidak secara tepat menjelaskan bagaimana kesalahan teknis yang dimaksud.
(mas)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak