alexametrics

BBC Sebut Anak-anak Papua Kelaparan di Tanah Emas

loading...
BBC Sebut Anak-anak Papua Kelaparan di Tanah Emas
Yulita Atap, bayi dua bulan di Asmat, Papua, yang mengalami malnutrisi. Foto/BBC
A+ A-
JAKARTA - Krisis gizi dan campak yang diderita anak-anak Asmat, Papua, diulas media Inggris, BBC, dengan judul yang ironis “Anak-anak Provinsi Papua Indonesia Kelaparan di Tanah Emas”.

Laporan yang sarat kritik ini diawali dengan deskripsi krisis campak dan malnutrisi yang ditulis BBC telah menewaskan setidaknya 72 orang, kebanyakan anak-anak, di provinsi terpencil di Papua, Indonesia yang merupakan rumah bagi tambang emas terbesar di dunia.

Laporan sekilas wartawan Rebecca Henschke dan Hedyer Affan tentang akses Papua yang tertutup bagi wartawan selama beberapa dekade juga disinggung.

Rebbeca adalah wartawan media tersebut yang “diusir” dari Papua setelah men-tweet-kan bantuan TNI untuk anak-anak Asmat yang dianggap menyinggung perasaan korps militer Indonesia tersebut. Rebecca beberapa waktu lalu menuliskan bantuan untuk anak-anak Asmat yang hanya berwujud paket biskuit dan mie instan.

Dalam laporan berjudul “Indonesia's Papua province children starving in a land of gold”, kantor berita Inggris ini menceritakan bayi berumur dua bulan bernama Yulita Atap yang disebut kondisi kehidupannya “sangat brutal”. Ibunya meninggal saat melahirkan. Ayahnya menyerahkannya untuk mati.

”Di dalam awan kesedihan dia ingin memukulnya, menguburnya dengan ibunya,” kata pamannya, Ruben Atap.

”Saya bilang, jangan lakukan itu, Tuhan akan marah, dia menjadi tenang dan bersyukur karena kami ingin menjaganya, tapi sekarang kami berjuang untuk membuatnya tetap hidup.”

Dia terbaring lemas di tempat tidur di satu-satunya rumah sakit di Kabupaten Asmat, sebuah daerah hutan tertutup seukuran Belgia. Rusuk Yulita menonjol, hampir menembus kulit. Perutnya membuncit.

Pamannya terus menatap tubuhnya yang mungil.

Krisis Gizi

BBC Sebut Anak-anak Papua Kelaparan di Tanah Emas
Foto/BBC

Keluarga Yulita Atap melakukan perjalanan selama dua hari untuk mencapai rumah sakit tersebut. Petugas kesehatan pemerintah membantunya melakukan perjalanan dua hari dengan speedboat ke sungai untuk sampai ke rumah sakit. Sungai-sungai adalah jalan raya, merayap seperti ular melalui hutan lebat.

Di ranjang rumah sakit berikutnya adalah keluarga Ofnea Yohanna. Tiga dari anak-anaknya, yang berusia empat, tiga dan dua tahun, sangat kekurangan gizi.

Dia menikah saat baru berusia 12 tahun. Ketika masih berusia 20-an tahun, dia memiliki enam anak.

”Kami makan saat ada makanan, padahal tidak ada, kami tidak punya kapal saat ini untuk memancing,” katanya.
halaman ke-1 dari 5
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak