Tiga Sandera asal Israel yang Dibunuh Tentara Zionis di Gaza karena Dikira Musuh
Rabu, 20 Desember 2023 - 12:32 WIB
loading...
Alon Shamriz, Yotam Haim, dan Samer Talalka. Mereka adalah tiga sandera asal Israel yang ditembak mati tentara negara mereka sendiri saat bertempur di Gaza, Palestina. Foto/BBC
A
A
A
JAKARTA - Tiga sandera asal Israel di Gaza telah ditembak mati oleh para tentara mereka sendiri, yang keliru mengidentifikasi ketiganya sebagai musuh yang mengancam.
Ketiga sandera korban aksi blunder tentara Zionis itu adalah Yotam Haim (28), Samer Talalka (22), dan Alon Shamriz (26). Mereka ditembak mati di lingkungan Shujaiya, Kota Gaza, pada hari Jumat ketika pasukan Zionis Israel menghadapi perlawanan keras pasukan Hamas.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengakui para tentara yang membunuh ketiga sandera tersebut telah melanggar aturan, di mana ketiganya sudah berteriak "tolong", bertelanjang separuh badan untuk memastikan tidak membawa bom, mengibarkan bendera putih, dan menuliskan tanda permohonan bantuan atau SOS di dinding bangunan menggunakan sisa-sisa makanan.
Baca Juga: Panglima Militer Israel Jenderal Halevi: Kami Gagal, Saya Bertanggung Jawab...
Panglima Militer atau Kepala Staf IDF Letnan Jenderal Herzi Halevi mengatakan para tentara sama sekali tidak diizinkan menembak mereka yang menyerah.
“IDF tidak menembak orang yang mengacungkan tangan,” kata Jenderal Halevi, seperti dikutip BBC.
Dia mengatakan, bahkan warga Gaza yang mengibarkan bendera putih juga harus ditangkap dan tidak ditembak. “Jika mereka meletakkan senjata dan mengangkat tangan," ujarnya.
Sekitar 120 sandera diyakini masih disandera di Jalur Gaza, yang dikuasai oleh Hamas dan kelompok perlawanan Palestina lainnya.
Israel berada di bawah tekanan yang semakin besar untuk mencapai kesepakatan untuk membebaskan lebih banyak sandera.
Para pejabat Israel mengakui bahwa membunuh tiga pria yang mengibarkan bendera putih adalah pelanggaran “aturan keterlibatan”.
Ketiga sandera yang dibunuh tentara IDF itu bagian dari ratusan orang yang ditangkap dan dibawa ke Gaza selama serangan Hamas ke Israel selatan pada 7 Oktober yang menewaskan sekitar 1.200 orang.
Israel telah melancarkan operasi pembalasan besar-besaran yang diklaim untuk menghancurkan Hamas.
Menurut otoritas kesehatan Gaza, lebih dari 18.000 orang telah terbunuh di Gaza sejak itu, dan ratusan ribu lainnya terpaksa meninggalkan rumah mereka.
Menurut seorang pejabat militer Israel, yang berbicara tanpa mau disebutkan namanya, ketiga sandera yang bernasib malang itu muncul dalam keadaan bertelanjang dada dari sebuah gedung, salah satunya membawa tongkat dengan kain putih.
Salah satu tentara, imbuh pejabat itu, merasa terancam, karena orang-orang tersebut berada pada jarak puluhan meter, menyatakan mereka sebagai “teroris” dan melepaskan tembakan. Dua orang langsung terbunuh sementara yang ketiga, terluka, kembali ke gedung.
Teriakan minta tolong terdengar dalam bahasa Ibrani dan komandan batalion memerintahkan pasukan untuk menghentikan tembakan. Sandera yang terluka itu kemudian muncul kembali, dan ditembak serta dibunuh, kata pejabat tersebut.
Tidak jelas apakah para sandera ditinggalkan oleh penculiknya atau melarikan diri.
Pada hari Minggu, IDF mengatakan penggeledahan di gedung tersebut dilakukan, mengungkapkan pesan "SOS" dan "Tolong, 3 sandera" tertulis di kain.
Para pejabat yakin para sandera sudah berada di sana selama beberapa waktu.
Sejak berakhirnya gencatan senjata sementara antara Israel dan Hamas awal bulan ini, keluarga para sandera telah mendesak pemerintah Israel untuk mencapai gencatan senjata baru agar setidaknya beberapa sandera dapat dibebaskan.
Kesepakatan awal menghasilkan pembebasan lebih dari 100 sandera, dengan imbalan para warga Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah menolak seruan tersebut, dan bersikeras bahwa "tekanan militer diperlukan baik untuk kembalinya para sandera maupun untuk meraih kemenangan".
Di tengah meningkatnya korban sipil di Palestina, pemerintah Israel mendapat tekanan internasional yang semakin besar, termasuk dari sekutu utama negara itu, Amerika Serikat.
Pada hari Minggu, Menteri Luar Negeri Perancis Catherine Colonna pergi ke Israel menyerukan “gencatan senjata segera dan tahan lama”.
Rekannya dari Israel, Eli Cohen, mengatakan gencatan senjata adalah sebuah kesalahan dan menggambarkannya sebagai hadiah untuk Hamas.
Inggris dan Jerman juga menyerukan "gencatan senjata berkelanjutan", namun tidak mengatakan bahwa gencatan senjata harus segera dilakukan.
Wilayah yang luas di Jalur Gaza telah hancur akibat pengeboman Israel, dan PBB telah memperingatkan akan terjadinya bencana kemanusiaan di tengah meluasnya kekurangan pasokan bahan pokok.
Ketiga sandera korban aksi blunder tentara Zionis itu adalah Yotam Haim (28), Samer Talalka (22), dan Alon Shamriz (26). Mereka ditembak mati di lingkungan Shujaiya, Kota Gaza, pada hari Jumat ketika pasukan Zionis Israel menghadapi perlawanan keras pasukan Hamas.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengakui para tentara yang membunuh ketiga sandera tersebut telah melanggar aturan, di mana ketiganya sudah berteriak "tolong", bertelanjang separuh badan untuk memastikan tidak membawa bom, mengibarkan bendera putih, dan menuliskan tanda permohonan bantuan atau SOS di dinding bangunan menggunakan sisa-sisa makanan.
Baca Juga: Panglima Militer Israel Jenderal Halevi: Kami Gagal, Saya Bertanggung Jawab...
Panglima Militer atau Kepala Staf IDF Letnan Jenderal Herzi Halevi mengatakan para tentara sama sekali tidak diizinkan menembak mereka yang menyerah.
“IDF tidak menembak orang yang mengacungkan tangan,” kata Jenderal Halevi, seperti dikutip BBC.
Dia mengatakan, bahkan warga Gaza yang mengibarkan bendera putih juga harus ditangkap dan tidak ditembak. “Jika mereka meletakkan senjata dan mengangkat tangan," ujarnya.
Sekitar 120 sandera diyakini masih disandera di Jalur Gaza, yang dikuasai oleh Hamas dan kelompok perlawanan Palestina lainnya.
Israel berada di bawah tekanan yang semakin besar untuk mencapai kesepakatan untuk membebaskan lebih banyak sandera.
Para pejabat Israel mengakui bahwa membunuh tiga pria yang mengibarkan bendera putih adalah pelanggaran “aturan keterlibatan”.
Ketiga sandera yang dibunuh tentara IDF itu bagian dari ratusan orang yang ditangkap dan dibawa ke Gaza selama serangan Hamas ke Israel selatan pada 7 Oktober yang menewaskan sekitar 1.200 orang.
Israel telah melancarkan operasi pembalasan besar-besaran yang diklaim untuk menghancurkan Hamas.
Menurut otoritas kesehatan Gaza, lebih dari 18.000 orang telah terbunuh di Gaza sejak itu, dan ratusan ribu lainnya terpaksa meninggalkan rumah mereka.
Menurut seorang pejabat militer Israel, yang berbicara tanpa mau disebutkan namanya, ketiga sandera yang bernasib malang itu muncul dalam keadaan bertelanjang dada dari sebuah gedung, salah satunya membawa tongkat dengan kain putih.
Salah satu tentara, imbuh pejabat itu, merasa terancam, karena orang-orang tersebut berada pada jarak puluhan meter, menyatakan mereka sebagai “teroris” dan melepaskan tembakan. Dua orang langsung terbunuh sementara yang ketiga, terluka, kembali ke gedung.
Teriakan minta tolong terdengar dalam bahasa Ibrani dan komandan batalion memerintahkan pasukan untuk menghentikan tembakan. Sandera yang terluka itu kemudian muncul kembali, dan ditembak serta dibunuh, kata pejabat tersebut.
Tidak jelas apakah para sandera ditinggalkan oleh penculiknya atau melarikan diri.
Pada hari Minggu, IDF mengatakan penggeledahan di gedung tersebut dilakukan, mengungkapkan pesan "SOS" dan "Tolong, 3 sandera" tertulis di kain.
Para pejabat yakin para sandera sudah berada di sana selama beberapa waktu.
Sejak berakhirnya gencatan senjata sementara antara Israel dan Hamas awal bulan ini, keluarga para sandera telah mendesak pemerintah Israel untuk mencapai gencatan senjata baru agar setidaknya beberapa sandera dapat dibebaskan.
Kesepakatan awal menghasilkan pembebasan lebih dari 100 sandera, dengan imbalan para warga Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah menolak seruan tersebut, dan bersikeras bahwa "tekanan militer diperlukan baik untuk kembalinya para sandera maupun untuk meraih kemenangan".
Di tengah meningkatnya korban sipil di Palestina, pemerintah Israel mendapat tekanan internasional yang semakin besar, termasuk dari sekutu utama negara itu, Amerika Serikat.
Pada hari Minggu, Menteri Luar Negeri Perancis Catherine Colonna pergi ke Israel menyerukan “gencatan senjata segera dan tahan lama”.
Rekannya dari Israel, Eli Cohen, mengatakan gencatan senjata adalah sebuah kesalahan dan menggambarkannya sebagai hadiah untuk Hamas.
Inggris dan Jerman juga menyerukan "gencatan senjata berkelanjutan", namun tidak mengatakan bahwa gencatan senjata harus segera dilakukan.
Wilayah yang luas di Jalur Gaza telah hancur akibat pengeboman Israel, dan PBB telah memperingatkan akan terjadinya bencana kemanusiaan di tengah meluasnya kekurangan pasokan bahan pokok.
(mas)
Lihat Juga :