alexametrics

Tunisia Tngkap 150 Orang karena Kerusuhan

loading...
Tunisia Tngkap 150 Orang karena Kerusuhan
Pihak kepolisian Tunisia menangkap 150 orang terkait kerusuhan di negara itu. Foto/Istimewa
A+ A-
TUNIS - Pihak berwenang Tunisia menahan 150 orang termasuk pemimpin oposisi setempat pada hari Jumat kemarin. Penangkapan terbaru ini membuat jumlah mereka yang ditahan mendekati 800 orang dalam menanggapi demonstrasi minggu ini terhadap kenaikan harga dan pajak.

Protes, beberapa aksi kekerasan, meletus di Tunisia pada hari Senin saat seorang pemrotes terbunuh sebelum surut pada hari Kamis. Para pemrotes telah membakar puluhan gedung negara, mendorong pemerintah untuk mengirim tentara ke beberapa desa dan kota.

Aktivis dan politisi oposisi menyerukan aksi demonstrasi baru-baru ini di Ibu Kota Tunis pada hari Jumat dan Minggu. Aksi ini bertepatan dengan peringatan jatuhnya presiden Zine El-Abidine Ben Ali, pemimpin pertama yang jatuh dalam demonstrasi "Arab Spring" tahun 2011 yang menyapu Timur Tengah.

Pada hari Kamis, kerusuhan terbatas pada bentrokan sporadis, terjadi di kota utara Siliana, Sidi Bouzid, Tunisia tengah dan Douz di selatan negara Afrika Utara itu. Pada hari Jumat aksi sebagian besar sepi dengan hanya 200 orang yang melakukan demonstrasi damai di ibukota tersebut, kata seorang saksi mata.



"Protes telah menurun dan tidak ada kerusakan, tapi semalam polisi menangkap 150 orang yang terlibat dalam kerusuhan selama beberapa hari terakhir, sehingga jumlah total tahanan menjadi 778," ujar juru bicara Kementerian Dalam Negeri Khelifa Chibani mengatakan.

"Enam belas 'ekstremis Islam' termasuk di antara mereka yang ditahan," katanya seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (13/1/2018).

Kementerian dalam negeri juga menyatakan pihak berwenang juga menangkap empat orang karena melemparkan bom bensin ke sebuah sekolah Yahudi pada hari Selasa. "Mereka tidak memiliki afiliasi keagamaan dan telah mencoba untuk menciptakan kekacauan," tambahnya.

Tiga pemimpin lokal Front Populer, blok oposisi utama, ditahan di Gafsa karena diduga membakar gedung pemerintah.

Front Populer mengatakan bahwa para pemimpinnya telah ditargetkan dalam sebuah kampanye politik yang mereproduksi metode rezim Ben Ali yang menindas. "Anggota partai juga telah ditangkap di Mahdia dan Karbariya," bunyi pernyataan kelompok itu.

Pemerintah telah menyalahkan oposisi dan "pembuat onar" karena memicu keresahan, sebuah tuduhan yang ditolak oleh oposisi. Pemerintah telah berjanji untuk tidak mundur berdasarkan langkah-langkah penghematan, yang dilakukan untuk memuaskan kreditor asing.

Aksi protes dipicu atas kenaikan harga dan pajak dalam anggaran tahun ini yang mulai berlaku pada 1 Januari.

"Pihak berwenang menghormati hak untuk melakukan demonstrasi namun tindakan vandalisme dikendalikan," kata pemerintah dalam sebuah pernyataan.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak