alexametrics

Senjata Nuklir AS Ditakutkan Meluncur Tak Sengaja oleh Cyberhack

loading...
Senjata Nuklir AS Ditakutkan Meluncur Tak Sengaja oleh Cyberhack
Rudal balistik antarbenua berhulu ledak nuklir Amerika Serikat di Pangkalan Angkatan Udara Malstrom, Montana. Foto/REUTERS
A+ A-
WASHINGTON - Sebanyak 17 mantan perwira peluncur senjata nuklir Amerika Serikat (AS) menandatangi sura terbuka tentang bahaya retorika nuklir Presiden Donald Trump. Belasan mantan perwira itu bersikap di tengah kekhawatiran senjata nuklir Washington tak sengaja meluncur akibat cyberhack.

Para mantan perwira itu minta agar akses Presiden Trump terhadap otorisasi perintah serangan nuklir yang dimetaforakan sebagai “tombol merah” dibatasi. Mereka menilai realitas kepresidenan Trump lebih buruk dari yang mereka takutkan.

”Presiden memiliki banyak kesempatan untuk mendidik dan merendahkan dirinya atas tanggung jawab serius dari kantornya. Sebagai gantinya, dia secara konsisten menunjukkan dirinya mudah diberi umpan, keras kepala karena ketidaktahuannya akan politik dan diplomasi dunia, dan dengan cepat memicu ancaman nuklir,” bunyi surat terbuka tersebut.

Mereka mengklaim retorika Trump terhadap terhadap Korea Utara telah menyoroti kelemahan yang dapat membahayakan jutaan orang di seluruh dunia. Retorika Trump membuka tabir bahwa tidak ada pemeriksaan khusus terhadap Presiden jika dia memutuskan untuk melakukan serangan nuklir.

”Sebagai mantan petugas kontrol peluncuran nuklir, adalah tugas kita untuk menembakkan rudal nuklir jika presiden mengerahkan begitu. Begitu presiden memerintahkan peluncuran, kita bisa saja membuat misil-misil meninggalkan silo mereka dalam beberapa menit. Misil-misil tidak bisa dipanggil lagi,” lanjut surat terbuka tersebut.

”Rudal tersebut akan mencapai tujuan mereka—baik Rusia, China atau pun Korea Utara—dalam waktu 30 menit. Tidak ada tindakan konsekuensi yang lebih besar, dan seharusnya tidak jatuh di tangan seseorang,” sambung surat itu.

”Kami dan bangsa kita tidak bisa menjadi sandera perubahan suasana hati seorang panglima perang yang pemarah dan bodoh. Tidak ada individu, terutama Donald Trump, yang harus memegang kekuasaan mutlak untuk menghancurkan bangsa-bangsa. Itu adalah pelajaran yang jelas tentang kepresidenan ini dan kami sebagai mantan pelayan kunci peluncuran, dipegang  dengan keyakinan penuh,” imbuh mantan kelompok perwira nuklir AS, yang dikutip SINDOnews, Sabtu (13/1/2018).

Kekhawitran mereka muncul setelah sebuah peringatan dari tim Chatham House menyebut sistem komando serangan nuklir AS rawan terkena pembajakan siber atau cyberhack. Jika terkena cyberhack, senjata nuklir AS itu bisa meluncur tak sengaja.

Dr Patricia Lewis dan Dr Beyza Unal dari The International Security Department’s memublikasikan peringatan penting itu dalam makalah berjudul “Cybersecurity Of Nuclear Weapons Systems”. Makalah itu menyatakan bahwa sembilan negara yang memiliki senjata nuklir sering mengandalkan sistem strategis yang dikembangkan pada saat komputer masih “infancy”.
(mas)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak