alexametrics

Arab, Eropa, dan PBB Tolak Pengakuan Trump Atas Yerusalem

loading...
Gelombang protes pecah di beberapa bagian ibukota Yordania, Amman, yang didiami oleh pengungsi Palestina, dengan pemuda-pemuda meneriakkan slogan-slogan anti-Amerika. Di kamp pengungsi Baqaa di pinggiran kota, ratusan orang berkeliaran di jalanan mencela Trump dan meminta Yordania untuk membatalkan perjanjian damai dengan Israel. "Jatuh bersama Amerika.. Amerika adalah ibu teror," teriak mereka.

Presiden Lebanon Michel Aoun mengatakan bahwa keputusan Trump di Yerusalem berbahaya dan mengancam kredibilitas AS sebagai perantara perdamaian Timur Tengah. Dia mengatakan langkah tersebut akan mengembalikan proses perdamaian selama beberapa dekade dan mengancam stabilitas regional dan mungkin stabilitas global.

Menteri luar negeri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman al-Thani, mengatakan bahwa usaha Trump adalah hukuman mati bagi semua orang yang mencari kedamaian. Ia menyebutnya eskalasi yang berbahaya.

Turki mengatakan bahwa langkah Trump tidak bertanggung jawab.

"Kami meminta pemerintah AS untuk mempertimbangkan kembali keputusan yang salah ini yang dapat mengakibatkan hasil yang sangat negatif dan untuk menghindari langkah-langkah yang tidak terstruktur yang akan membahayakan identitas multikultural dan status historis Yerusalem," kata kementerian luar negeri Turki dalam sebuah pernyataan.

Beberapa ratus pemrotes berkumpul di luar konsulat AS di Istanbul. Protes tersebut sebagian besar berlangsung damai, meski beberapa demonstran melemparkan koin dan benda lainnya ke konsulat.

Iran secara serius mengutuk Trump karena melanggar resolusi PBB mengenai konflik Israel-Palestina, kata media pemerintah. Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei mengatakan sebelumnya bahwa AS mencoba untuk mengacaukan wilayah tersebut dan memulai perang untuk melindungi keamanan Israel.
(ian)
halaman ke-2 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak