alexa snippet

AS: Pemimpin Militer Myanmar Bertanggung Jawab Atas Krisis Rohingya

AS: Pemimpin Militer Myanmar Bertanggung Jawab Atas Krisis Rohingya
AS menyebut pemimpin militer Myanmar bertanggung jawab atas krisis Rohingya. Foto/Istimewa
A+ A-
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) menyebut pemimpin militer Myanmar bertanggung jawab atas aksi kekerasan terhadap minoritas Muslim Rohingya. Hal itu dikatakan oleh Sekretaris Negera AS, Rex Tillerson.

Tillerson, bagaimanapun, tidak mengungkapkan apakah AS akan melakukan tindakan terhadap pemimpin militer Myanmar. Aksi kekerasa militer Myanmar menyebabkan lebih dari 500 ribu Muslim Rohingya eksodus ke Bangladesh.

Washington telah bekerja keras untuk menjalin hubungan dekat dengan pemerintah pimpinan sipil Myanmar yang dipimpin oleh peraih Nobel dan mantan pembangkang Aung San Suu Kyi dalam menghadapi persaingan dari saingan strategis China.

"Dunia tidak bisa hanya diam saja dan menjadi saksi kekejaman yang dilaporkan terjadi di wilayah tersebut," kata Tillerson kepada think tank Pusat Studi Strategis dan Internasional Washington.

"Kami benar-benar berpendapat kepemimpinan militer Myanmar bertanggung jawab atas apa yang terjadi," sambung Tillerson seperti dikutip dari Reuters, Kamis (19/10/2017).

Ia juga mengatakan bahwa AS sangat prihatin dengan situasi tersebut.

Empat puluh tiga anggota parlemen AS mendesak pemerintah Trump untuk mengajukan kembali larangan perjalanan kepada para pemimpin militer Myanmar. Mereka juga meminta AS menyiapkan sanksi yang ditargetkan terhadap mereka yang bertanggung jawab atas aksi kekerasan tersebut.

"Pemerintah Myanmar tampaknya menolak apa yang telah terjadi dan meminta Washington untuk mengambil langkah-langkah yang berarti terhadap orang-orang yang telah melakukan hak asasi manusia penyalahgunaan," bunyi permintaan tersebut, dalam sebuah surat kepada Tillerson dari anggota DPR Republik dan Demokrat.

Baca juga:
AS Didesak Jatuhkan Sanksi terhadap Pemimpin Militer Myanmar


Muslim Rohingya telah meninggalkan Myanmar dalam jumlah besar sejak akhir Agustus ketika serangan gerilyawan Rohingya memicu respons militer yang ganas. Muslim Rohingya yang melarikan diri menyebut pasukan keamanan melakukan pembakaran, pembunuhan dan pemerkosaan.

Tillerson mengatakan bahwa Washington memahami bahwa Myanmar memiliki masalah militansi, namun militer harus didisiplinkan dan dikendalikan dalam cara menangani hal ini dan untuk memungkinkan akses ke wilayah tersebut sehingga dapat memperoleh perhitungan penuh mengenai keadaan tersebut.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top