alexa snippet

Mengenang Rachel Corrie setelah 14 Tahun Dibuldoser Israel

Mengenang Rachel Corrie setelah 14 Tahun Dibuldoser Israel
Rachel Alience Corrie, 23, aktivis cantik AS yang tewas dibuldoser pasukan Israel saat halangi penggusuran rumah rakyat Palestina. Foto / REUTERS
A+ A-
RACHEL Alience Corrie bukan pejuang Hamas maupun Fatah Palestina. Dia bahkan gadis keturunan Yahudi, asal Olympia, Washington, Amerika Serikat (AS). Tapi, namanya abadi sebagai pahlawan rakyat Palestina setelah 14 tahun lalu, tubuhnya hancur dihantam buldoser lapis baja Israel saat menghalangi penggusuran rumah warga di Rafah, selatan Jalur Gaza.

Corrie adalah aktivis muda dan mahasiswi cantik yang tidak biasa. Dia meninggal di tangan pasukan pertahanan (IDF) Israel yang kejam pada 16 Maret 2003. Usianya, saat itu 23 tahun. Usia yang sangat muda untuk mengorbankan diri membela orang-orang Palestina yang ditindas Israel.

Orang pertama Palestina yang menyematkan gelar pahlawan untuk Corrie adalah almarhum Yasser Arafat, mantan pemimpin Palestina. Saat Corrie mengembuskan napas terakhir, Arafat mengontak orangtuanya di Washington, Craig dan Cindy Corrie, untuk memberitahu putri mereka jadi martir sekaligus pahlawan Palestina.

Corrie sejak masih kecil sudah menonjol. Videonya yang pidato tanpa naskah di depan para siswa cukup mencengangkan. Isi pidatonya bukan tentang imajinasi anak-anak, tapi berisi pesan-pesan moral dan sosial.

Dia menjadi aktivis muda di kelompok International Solidarity Movement (ISM) atau Gerakan Solodaritas Internasional. Berkat Corrie, kelompok ini menginsipirasi anak-anak muda dari berbagai negara untuk bergerak menolong Palestina. Salah satunya anak-anak muda yang tewas dalam tragedi kapal Mavi Marmara, beberapa tahun lalu.

Saban 16 Maret, para aktivis dan seniman rutin menggelar pentas teater tentang detik-detik kematian Corrie. Selain abadi sebagai nama pahlawan Palestina, nama Corrie telah lama menjadi nama yayasan sosial yang digerakkan orangtuanya untuk menolong orang-orang tertindas.
 
Kematian Corrie sekaligus “tamparan” bagi AS yang selama ini sesumbar memperjuangkan hak asasi manusia (HAM). Alih-alih memperjuangkan HAM, AS selama 14 tahun terakhir ini bungkam untuk membela warganya sendiri yang tewas dibuldoser Israel. Gagal di negaranya sendiri, orangtua Corrie menggugat pembunuha putrinya ke pengadilan di Israel. Tapi, hasilnya jauh dari memuaskan.

Corrie datang ke Gaza selain menjalankan misinya sebagai aktivis ISM, dia juga mengerjakan tugas akhir kuliahnya. Sejak tiba di Rafah dan Gaza, Corrie kerap mengontak ibunya untuk menceritakan penderitaan bocah-bocah Palestina yang ketakutan mendengar tembakan hingga penggusuran. Bagi Corrie, itu pengalaman nyata yang menyayat hatinya.

Nasibnya tragis. Kurang dari dua bulan setelah kedatangannya di Gaza, aktivis cantik itu meninggal dibunuh pasukan IDF dengan buldoser.

Pasukan Israel kala itu, berdalih tidak melihat Corrie karena pandangan terganggu. Tapi, dalih itu janggal. Sebab, Corrie sudah melambaikan tangan dan berteriak memohon untuk menghentikan laju buldoser Israel. Penyelidikan militer Israel juga menyimpulkan kematian Corrie sebagai kecelakaan. Kesimpulan ini yang menyedihkan orangtuanya dan para aktivis pro-Palestina.
 
Kelompok-kelompok HAM,  seperti Amnesty International, Human Right Watch, B’Tselem dan Yesh Din, mengecam penyelidikan militer Israel atas kematian Corrie.
 
Pada tahun 2005, orangtua Craig dan Cindy Corrie mengajukan gugatan perdata terhadap negara Israel. Gugatan diajukan karena Israel tidak melakukan penyelidikan penuh dan kredibel dalam kasus kematian putrinya. Orangtua Corrie, meyakini putri mereka sengaja dibunuh oleh tentara Israel yang sembrono.
 
Pada bulan Agustus 2012, sebuah pengadilan Israel menolak gugatan orangtua Corrie. Pengadilan Israel justru menjunjung tinggi hasil investigasi militer tahun 2003. Ironisnya, pengadilan memutuskan bahwa Pemerintah Israel tidak bertanggung jawab atas kematian Corrie.

Keputusan pengadilan itu dikecam kelompok-kelompok HAM dunia. Namun, pemerintah AS tidak bersuara. Orangtua Corrie mengajukan banding terhadap putusan pengadilan Israel bulan Agustus 2012. Lagi-lagi, Mahkamah Agung Israel pada 14 Februari 2015 menolak banding mereka.

Pada tahun 2005 drama perempuan bertajuk “My Name Is Rachel Corrie” dipentaskan di Royal Court Theater London. Sambutannya luar biasa. Pada bulan April 2015, drama ini dipentaskan Off Broadway di East Village di New York yang juga disambut antusias.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top