Pejabat dan Ulama Iran Dituduh Terlibat Seks Gay, tapi Disangkal Pemerintah
Rabu, 02 Agustus 2023 - 12:02 WIB
loading...
A
A
A
Banyak pengguna media sosial, menurut laporan Iran International, mengatakan bahwa mereka marah dengan kemunafikan rezim, para ulama, dan pejabat terkait rentetan tuduhan skandal seks sesama jenis tersebut.
Skandal ulama dan pejabat bagi banyak orang adalah pengingat akan kutipan abad ke-13 yang terkenal oleh Hafez Shirazi yang dihormati secara nasional yang mengatakan; ulama "bersinar" ketika mereka berkhotbah di mimbar tetapi ketika secara pribadi, mereka melakukan dosa yang sama seperti yang mereka katakan kepada orang-orang, agar dijauhi.
“Korupsi telah melembaga dalam sistem dan loyalitas telah menjadi komoditas yang dapat dibeli dan dijual. Tapi ini bukan masalah utamanya: Paradigma nilai juga telah hilang semuanya. Apa yang mereka khotbahkan kepada orang-orang tidak lagi dapat dipercaya oleh siapa pun, bahkan bagi banyak pendukung fanatik mereka,” kata seorang pengamat Iran yang dikutip Iran International tanpa disebutkan identitasnya.
Haghshenas, yang tuduhan tentang obrolan seks dengan saudara iparnya telah menimbulkan badai di media sosial, ditunjuk sebagai sekretaris Gilan—markas besar organisasi negara untuk amar ma'ruf, yaitu menyerukan orang lain untuk berbuat baik.
Pejabat yang bertanggung jawab untuk mempromosikan nilai-nilai Islam memegang posisi tersebut sampai seorang jurnalis mengajukan pengaduan terhadapnya ke Pengadilan Khusus untuk Ulama dan menyajikan obrolan seksnya, yang diduga otentik oleh pengadilan, sebagai bukti.
Radio Gilan mengeklaim bahwa Ayatollah Rasoul Falahati, perwakilan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei di provinsi tersebut, membantu menutupi kasus tersebut sehingga Haghshenas dicopot dari posisinya tanpa hukuman lebih lanjut.
Pada bulan Desember 2017, Vida Movahed, seorang wanita muda, melepas jilbab putihnya, meletakkannya di atas tongkat dan naik ke atas kotak utilitas di jalan Teheran yang sibuk sambil melambai-lambaikan tongkat.
Dia langsung ditangkap dan ditahan selama sebulan karena “melukai” perasaan masyarakat dengan “tindakan asusila”-nya. Sebuah foto aksi protesnya menjadi viral di media sosial dan memicu gerakan menentang wajib hijab yang kemudian dikenal dengan "White Wednesdays".
Skandal ulama dan pejabat bagi banyak orang adalah pengingat akan kutipan abad ke-13 yang terkenal oleh Hafez Shirazi yang dihormati secara nasional yang mengatakan; ulama "bersinar" ketika mereka berkhotbah di mimbar tetapi ketika secara pribadi, mereka melakukan dosa yang sama seperti yang mereka katakan kepada orang-orang, agar dijauhi.
“Korupsi telah melembaga dalam sistem dan loyalitas telah menjadi komoditas yang dapat dibeli dan dijual. Tapi ini bukan masalah utamanya: Paradigma nilai juga telah hilang semuanya. Apa yang mereka khotbahkan kepada orang-orang tidak lagi dapat dipercaya oleh siapa pun, bahkan bagi banyak pendukung fanatik mereka,” kata seorang pengamat Iran yang dikutip Iran International tanpa disebutkan identitasnya.
Haghshenas, yang tuduhan tentang obrolan seks dengan saudara iparnya telah menimbulkan badai di media sosial, ditunjuk sebagai sekretaris Gilan—markas besar organisasi negara untuk amar ma'ruf, yaitu menyerukan orang lain untuk berbuat baik.
Pejabat yang bertanggung jawab untuk mempromosikan nilai-nilai Islam memegang posisi tersebut sampai seorang jurnalis mengajukan pengaduan terhadapnya ke Pengadilan Khusus untuk Ulama dan menyajikan obrolan seksnya, yang diduga otentik oleh pengadilan, sebagai bukti.
Radio Gilan mengeklaim bahwa Ayatollah Rasoul Falahati, perwakilan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei di provinsi tersebut, membantu menutupi kasus tersebut sehingga Haghshenas dicopot dari posisinya tanpa hukuman lebih lanjut.
Pada bulan Desember 2017, Vida Movahed, seorang wanita muda, melepas jilbab putihnya, meletakkannya di atas tongkat dan naik ke atas kotak utilitas di jalan Teheran yang sibuk sambil melambai-lambaikan tongkat.
Dia langsung ditangkap dan ditahan selama sebulan karena “melukai” perasaan masyarakat dengan “tindakan asusila”-nya. Sebuah foto aksi protesnya menjadi viral di media sosial dan memicu gerakan menentang wajib hijab yang kemudian dikenal dengan "White Wednesdays".
Lihat Juga :