Presiden Biden Ternyata Terima Hadiah Termahal dari Vladimir Putin, Ini Detailnya
Jum'at, 24 Februari 2023 - 18:05 WIB
loading...
Presiden AS Joe Biden menerima hadiah termahal dari Presiden Rusia Vladimir Putin beberapa bulan sebelum Moskow menginvasi Ukraina. Foto/REUTERS
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden terungkap telah menerima hadiah termahal dari Presiden Rusia Vladimir Putin pada Juni 2021 atau sekitar 8 bulan sebelum Moskow menginvasi Ukraina.
Hadiah itu diterima setelah kedua pemimpin tersebut bertemu di Jenewa pada bulan Juni tahun tersebut.
Menurut Kantor Kepala Protokol Departemen Luar Negeri AS, rincian hadiah termahal yang diterima Biden adalah satu set pena dan meja Rusia yang unik dengan harga USD12.000.
Baca juga: Panglima Militer AS: Angkatan Darat Rusia Dianiaya selama Setahun Invasi ke Ukraina
Biden juga memberi Putin hadiah sepasang kacamata hitam penerbang khas serta patung kristal bison Amerika, mamalia resmi negara itu.
"Set dan Pena Meja Tulis dan Pena Miniatur Lokakarya Pernis Kholuy adalah salah satu dari banyak hadiah yang diterima Biden dan pejabat pemerintah lainnya tahun itu," bunyi laporan kantor tersebut yang dirilis pada Kamis, seperti NDTV, Jumat (24/2/2023).
Laporan setebal 72 halaman itu menawarkan wawasan tentang cara para pemimpin asing mencoba mempersonalisasikan diplomasi dengan Gedung Putih.
Hadiah itu diterima setelah kedua pemimpin tersebut bertemu di Jenewa pada bulan Juni tahun tersebut.
Menurut Kantor Kepala Protokol Departemen Luar Negeri AS, rincian hadiah termahal yang diterima Biden adalah satu set pena dan meja Rusia yang unik dengan harga USD12.000.
Baca juga: Panglima Militer AS: Angkatan Darat Rusia Dianiaya selama Setahun Invasi ke Ukraina
Biden juga memberi Putin hadiah sepasang kacamata hitam penerbang khas serta patung kristal bison Amerika, mamalia resmi negara itu.
"Set dan Pena Meja Tulis dan Pena Miniatur Lokakarya Pernis Kholuy adalah salah satu dari banyak hadiah yang diterima Biden dan pejabat pemerintah lainnya tahun itu," bunyi laporan kantor tersebut yang dirilis pada Kamis, seperti NDTV, Jumat (24/2/2023).
Laporan setebal 72 halaman itu menawarkan wawasan tentang cara para pemimpin asing mencoba mempersonalisasikan diplomasi dengan Gedung Putih.
Lihat Juga :