alexametrics

Mengapa Banyak Orang Tetap Bodoh Walau Membaca Buku

Mengapa Banyak Orang Tetap Bodoh Walau Membaca Buku
Mengapa Banyak Orang Tetap Bodoh Walau Membaca Buku. Monique Rijkers
A+ A-
Seorang beragama membaca sebuah buku dan merasa tahu segalanya sementara ilmuwan membaca ratusan buku dan merasa masih tidak tahu apa-apa – Anonimus.

Buku adalah jendela dunia. Salah seorang selebgram yang saya kenal menyatakan mau melakukan give away buku sebagai perayaan penambahan jumlah followers di Instagramnya. Mengapa buku? Karena buku dianggap mampu membuat seseorang berpikiran terbuka, katanya. Seorang selebgram juga, menampilkan berbagai pose dirinya sedang membaca berbagai buku dalam album Instagramnya, tentu saja disertai dengan caption yang menandakan bahwa dirinya, sebagai orang yang membaca buku lebih berkualitas daripada yang tidak membaca.

Bukan hal yang baru jika Indonesia dikritik sebagai negara yang rendah tingkat literasinya, baik membaca, menulis maupun berpikir kritis. Berbagai survei menghadirkan fakta angka-angka sedikitnya tingkat membaca bangsa ini dan membandingkannya dengan negara-negara Skandinavia atau negara Eropa Barat, berbagai alasan dituduh menjadi penyebabnya: mulai dari infrastruktur yang buruk, kualitas pendidikan yang buruk, gizi yang buruk, buku yang mahal dan sebagainya. Sedangkan kondisi kemampuan menulis, lebih menyedihkan lagi dari kemampuan dan keinginan membaca. Produksi jurnal ilmiah di tingkat universitas se-Asia Tenggara, Indonesia di daulat sebagai yang paling rendah. Padahal lulusan universitas adalah ujung tombak budaya menulis di Indonesia.

Bagaimana sesungguhnya nasib membaca dan menulis di Indonesia?

Dewasa ini seharusnya banyak orang tidak asing lagi dengan kehadiran gawai smartphone sampai e-book reader. Negara Indonesia dikenal dengan penduduknya yang mudah adaptasi dengan teknologi terbaru khususnya gadget.

Saya sendiri pertama kali saya mendapat pembaca buku digital (e-book reader) keluaran Amazon dibelikan oleh pacar saya yang tinggal di Jerman. Saya takjub dan merasa membaca buku menjadi lebih sederhana dan praktis karena tidak perlu lagi membawa tas besar berisi buku dan harga buku digital jauh lebih murah daripada buku cetak. Di Amerika pada tahun 2012, pangsa pasar buku elektronik mencakup 35 persen sedangkan di Indonesia, hanya mencapai 2 persen. Hingga hari ini, buku digital belum mempengaruhi pasar pembaca buku manual disebabkan oleh hal yang kita semua pahami: minat baca masih lemah, apapun bentuknya.

Penyebaran hoax yang masif, pelanggaran lalu lintas di jalan hingga massa mengambang yang mudah di mobilisasi.

Literasi dianggap sebagai kemampuan dasar bertahan hidup di era demokrasi post-modern. Literasi adalah kemampuan membaca, menulis dan berpikir kritis.

Pada hari ini, pendidikan pada umumnya mengasah manusia untuk memiliki empat R kemampuan untuk mengatasi masalah yakni Reading, wRiting, aRitmethic dan Reasoning. Literasi adalah bagian dari membaca, menulis dan berpikir kritis yang diharapkan muncul melalui pendidikan.

Sejak masa awal kebijakan pendidikan oleh pemerintah Hindia Belanda bernama Politik Etis hingga sekarang, pemahaman literasi sering kali disandingkan dengan berpendidikan. Walau pada hari ini kenyataannya kita bisa saksikan bahwa banyak orang berpendidikan tinggi ternyata tidak punya kemampuan literasi.

Dalam pelbagai survei yang sering dikutip untuk menyetakan rendahnya minat baca bangsa ini, kemampuan literasi yang seharusnya mencakup tiga hal tadi, disederhanakan menjadi hanya minat baca. Akibatnya banyak orang berlomba-lomba untuk menunjukan diri menjadi sebagai orang yang membaca, berpikir dan menulis dikesampingkan. Hal ini ditangkap juga oleh kapitalisme yang meraup keuntungan dari literasi dangkal tersebut.

Penjualan buku di Indonesia dikuasai oleh sebuah perusahaan besar bernama Kompas Gramedia yang memiliki industri produksi buku cetak dari hulu sampai hilir, mulai dari kepemilikan perusahaan kertas Graha Cemerlang Paper, kontrak dengan penulis buku-buku melalui Kompas Gramedia Group hingga jaringan toko buku Gramedia yang hadir hampir di setiap kota besar di Indonesia.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top