alexametrics

Greenpeace: Industri Sawit Nasional Masih Manjakan Penyuplai Nakal

Greenpeace: Industri Sawit Nasional Masih Manjakan Penyuplai Nakal
Greenpeace: Industri Sawit Nasional Masih Manjakan Penyuplai Nakal. Reuters/Beawiharta
A+ A-
Organisasi lingkungan, Greenpeace, mengeluhkan sejumlah perusahaan multinasional masih membeli minyak sawit dari pihak yang selama ini diyakini bertanggungjawab atas penggundulan hutan di Indonesia, meski sudah diberi himbauan untuk memberishkan rantai pemasoknya.

Dalam laporan teranyar yang dipublikasikan Rabu (19/9), organisasi yang bermarkas di Amsterdam, Belanda, itu menyebut sebanyak 25 produsen minyak sawit merusak lebih dari 130.000 hektar hutan alami sejak 2015 di Indonesia. Luas hutan yang dibabat diklaim dua kali lipat lebih besar ketimbang Singapura.

Laporan tersebut juga menyebut hampir semua produsen sawit bermasalah di Indonesia menyuplai merek-merek besar semisal Nestle, PepsiCo, Unilever dan Colgate-Palmolive.

Baca Juga:Ingin Restorasi Gambut, KLHK Malah Berpeluang Percepat Laju Deforestasi

Padahal 2010 silam 16 perusahaan makanan multinasional menandatangani komitmen bersama untuk berhenti membeli minyak sawit dari produsen yang terbukti merusak hutan dan melakukan pelanggaran Hak Azasi Manusia. Namun menurut Greenpeace, hingga kini implementasi komitmen tersebut tidak banyak mencatat kemajuan

Greenpeace mengatakan, deklarasi hijau tersebut sering disalahgunakan untuk kepentingan iklan, seakan-akan perusahaan telah mengambil langkah untuk menciptakan perubahan. Namun setelah bertahun-tahun mencoba mengimplementasikan komitmen itu, "produsen dan pedagang masih tidak mampu memonitor aktivitas perusahaan di rantai suplai mereka," tulis Greenpeace.

Greenpeace juga mengaku menyimpan bukti-bukti adanya fenomena buruh anak dan kerja paksa di dalam industri sawit Indonesia. Anak-anak berusia 8 tahun bekerja dalam kondisi "berbahaya" di perkebunan sawit. Praktik ini marak di perkebunan milik Wilmar International Ltd dan pemasoknya di Kalimantan dan Sumatera, klaim Greenpeace.

Tidak heran jika Wilmar yang mengendalikan lebih dari 43 persen perdagangan minyak sawit global dianggap termasuk pendosa lingkungan terbesar di antara 25 perusahaan sawit Indonesia yang diawasi oleh Greenpeace.

Baca Juga: Bagaimana Pilkada 2018 Mengancam Moratorium Hutan

"Kegagalan industri minyak sawit untuk menanggulangi deforestasi dan praktik kotor lain menciptakan kergauan terhadap perspektif jangka panjang industri ini," tulis Greenpeace. "Saat ini opini publik di banyak pasar besar di dunia sudah berbalik arah menentang minyak sawit."

Namun organisasi lingkungan lain, International Union for Conservation of Nature, awal tahun silam menulis larangan minyak sawit bukan solusi, lantaran sumber minyak nabati lain membutuhkan lahan yang lebih luas sehingga dikhawatirkan akan mempercepat deforestasi. Larangan, menurut IUCN, hanya akan "memindahkan" praktik deforestasi.

Sebaliknya IUCN mendesak agar pemerintah, perusahaan dan organisasi lingkungan bekerjasama mencari solusi agar bisa membuat industri sawit menjadi lebih "berkelanjutan" dan ramah lingkungan.
rzn/yf
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top