alexametrics

GIZ: "Kerjasama Bilateral Indonesia-Jerman Dalam Pendidikan Vokasi Sangat Menjanjikan"

GIZ: Kerjasama Bilateral Indonesia-Jerman Dalam Pendidikan Vokasi Sangat Menjanjikan
GIZ: "Kerjasama Bilateral Indonesia-Jerman Dalam Pendidikan Vokasi Sangat Menjanjikan". picture-alliance/dpa
A+ A-
Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit GmbH atau GIZ adalah perusahaan internasional Jerman yang beroperasi di berbagai bidang di lebih dari 120 negara dalam bidang kerja sama pembangunan. Dalam implementasinya, GIZ bekerja sama tidak hanya dengan pemerintah, tetapi juga bersama lembaga negara maupun sektor swasta. Salah satu fokus utamanya di Indonesia saat ini adalah meningkatkan kualitas di bidang pendidikan vokasi/kejuruan.

Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Indonesia Joko Widodo dalam pertemuan mereka tahun 2016 telah menandatangani kesepakatan tentang kerja sama bilateral di bidang pendidikan vokasi di Indonesia.

DW beberapa waktu lalu mewawancarai salah satu karyawan GIZ Indonesia yang sedang berkunjung ke Bonn, Susanti Bunadi, mengenai kerja sama Indonesia-Jerman di bidang pendidikan vokasi.

DW: Apa tantangan besar bagi Indonesia di bidang pendidikan vokasi?

Susanti Bunadi:

Permasalahan utama di Indonesia saat ini adalah masih adanya skill mismatch yang cukup besar, yaitu kesenjangan antara kemampuan yang dimiliki para lulusan pendidikan dan pelatihan kejuruan dengan kemampuan yang dibutuhkan oleh pasar kerja. Menurut kepanjangannya? (ADB), tingkat skill mismatch di Indonesia masih 51persen. Jadi masih sulit bagi industri untuk menemukan tenaga-tenaga kerja dengan kualifikasi yang mereka perlukan. Masih ada kesenjangan besar antara dunia pendidikan kejuruan yang mencetak lulusan untuk dunia kerja, dengan kebutuhan sektor swasta?

Di Jerman, yang dianggap sebuah success story dalam dunia pendidikan vokasi, rahasia keberhasilannya adalah kerjasama yang sangat erat dengan private sector. Nah, ini tantangan besar bagi Indonesia dan ini yang ingin dipelajari oleh Indonesia.

Ini sebenarnya ini bukan tidak ada di Indonesia. Misalnya success story yang ada di sekolah kejuruan ATMI Solo, atau Mikael Solo. Di sana para pelajar sekolah kejuruan bisa magang di sebuah perusahaan, dan sebelum lulus, mereka sudah mendapat tawaran pekerjaan. Nah, ini yang optimal. Perusahaan mendapat keuntungan, bahkan keuntungannya banyak sekali. Selama masa magang atau internship, di situ terjadi sharing teknologi dari perusahaan. Si pelajar bisa mengenal berbagai jenis mesin, bisa mengenal teknologinya. Dan itu sudah dimulai dari masa sekolah.

Masih banyak yang bisa dilakukan, bukan hanya lewat program magang. Misalnya juga dengan melakukan workshop. Perusahaan bisa membuka bengkel di sekolah kejuruan. Contoh kerja sama dengan sektor swasta mesti lebih dielaborasi lebih lanjut, misalnya penyusunan kurikulum, pelatihan guru/ instruktur dll. Kita juga harus menelaah bagaimana pembelajaran yang dilakukan pada sekolah-sekolah ini, sehingga keberhasilan pada yang dicapai bisa direplikasi ke sekolah seluruh Indonesia.

Jadi sebenarnya kemungkinan itu ada dan bisa dilakukan di Indonesia?

Oh, ada, dan bisa dilakukan. Dan contoh keberhasilan juga ada. Tapi pola ini harus dibuat menjadi sistematis. Strukturnya harus dibangun dan perangkat hukumnya juga harus dibuat. Jadi, pembenahan harus dilakukan juga di tingkat makro, misalnya dalam hal regulasi, selain di tingkat mikro. Di Jerman, struktur ini sudah terbangun dan punya sejarah sangat panjang dalam pendidikan kejuruan. Tentu kita tidak bisa berharap bahwa pembangunan bisa dilakukan dalam waktu singkat. Tapi Indonesia bisa mulai membangun struktur yang kuat.

Indonesia memiliki tantangan tersendiri dalam bentuk geografis. Sebagai negara kepulauan yang besar, dan perbedaan kualitas pendidikan yang cukup besar dari satu daerah ke daerah lain...
halaman ke-1 dari 3
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top