Setelah Prancis Diteror, NATO Mendadak Sebut Rusia Teman
Jum'at, 09 Januari 2015 - 09:10 WIB
Setelah Prancis Diteror, NATO Mendadak Sebut Rusia Teman
A
A
A
BRUSSELS - NATO yang selama ini berseteru dengan Rusia dalam krisis Ukraina mendadak menyebut Moskow sebagai teman setelah Prancis dilanda teror berdarah. NATO kini ingin menjalin hubungan baik dengan Rusia untuk melawan teror.
“Rusia harus menjadi sekutu dalam memerangi terorisme,” kata Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg.
”Itu sebabnya kami masih berjuang untuk membangun hubungan yang lebih kooperatif dan konstruktif dengan Rusia. Kami pikir itu penting, bahwa Rusia merupakan tetangga kami terbesar di Eropa, dan NATO bekerja sama dalam isu-isu penting seperti perang melawan teror,” lanjut dia seperti dilansir Bloomberg, semalam.
Pemimpin NATO itu mengecam pembantaian 12 orang oleh para pria bersenjata di kantor majalah satir Charlie Hebdo, di Paris.”Serangan terhadap kebebasan pers, terhadap kebebasan berpendapat dan terhadap masyarakat kami yang terbuka,” ujarnya.
Sebelum ini, NATO terang-terangan menganggap Rusia sebagai musuh. Terutama sejak Rusia di bawah kepemimpinan Presiden Vladimir Putin, menganeksasi Crimea dari Ukraina pada Maret 2014.
Pada bulan Mei 2014 lalu, Wakil Sekretaris Jenderal NATO, Aleksander Vershbow, mengatakan; “NATO harus mulai memperlakukan Rusia sebagai lebih dari musuh.”
“Rusia harus menjadi sekutu dalam memerangi terorisme,” kata Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg.
”Itu sebabnya kami masih berjuang untuk membangun hubungan yang lebih kooperatif dan konstruktif dengan Rusia. Kami pikir itu penting, bahwa Rusia merupakan tetangga kami terbesar di Eropa, dan NATO bekerja sama dalam isu-isu penting seperti perang melawan teror,” lanjut dia seperti dilansir Bloomberg, semalam.
Pemimpin NATO itu mengecam pembantaian 12 orang oleh para pria bersenjata di kantor majalah satir Charlie Hebdo, di Paris.”Serangan terhadap kebebasan pers, terhadap kebebasan berpendapat dan terhadap masyarakat kami yang terbuka,” ujarnya.
Sebelum ini, NATO terang-terangan menganggap Rusia sebagai musuh. Terutama sejak Rusia di bawah kepemimpinan Presiden Vladimir Putin, menganeksasi Crimea dari Ukraina pada Maret 2014.
Pada bulan Mei 2014 lalu, Wakil Sekretaris Jenderal NATO, Aleksander Vershbow, mengatakan; “NATO harus mulai memperlakukan Rusia sebagai lebih dari musuh.”
(mas)